Momentum mudik dan arus balik Lebaran seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai upaya pengamanan musiman. Lebih dari itu, periode ini bisa menjadi pengingat bahwa keselamatan jalan perlu dijaga sepanjang tahun. Setiap tahun, perhatian terhadap keselamatan memang meningkat saat musim mudik. Namun setelah periode tersebut berlalu, fokus sering kali kembali menurun. Padahal risiko kecelakaan tetap ada setiap hari di jalan raya. Sejumlah pemudik melintasi Simpang Pemuda Pantura Kota Cirebon Jawa Barat pada Senin (16/3/2026) siang Rio Octaviano dari Road Safety Association menegaskan, keselamatan jalan tidak bisa hanya mengandalkan momen tertentu. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang melibatkan banyak sektor secara bersamaan. “Salah satu pilar utama yang berperan penting dalam menciptakan sistem keselamatan yang efektif adalah kendaraan yang berkeselamatan," kata Rio dalam keterangan resmi, Selasa (24/3/2026). "Memastikan bahwa kendaraan yang digunakan oleh masyarakat memenuhi standar keselamatan yang tinggi adalah langkah krusial yang dapat meminimalkan dampak kecelakaan, khususnya di jalan-jalan yang sudah baik dan lurus, yang selama ini menjadi lokasi mayoritas kecelakaan," katanya. Meski demikian, kata Rio peran kendaraan bukanlah satu-satunya faktor keselamatan jalan melibatkan keseluruhan sistem sebab perilaku berkendara juga memegang peran penting. Arus balik mudik lebaran di ruas tol Purbaleunyi KM 125, Kota Cimahi, Jawa Barat pada Senin (23/3/2026) sore. "Termasuk perilaku pengguna jalan yang harus terus diperbaiki melalui edukasi dan penegakan hukum yang konsisten,” ujarnya. Menurut Rio, data tahun 2025 menunjukkan, kendaraan yang terlibat kecelakaan masih didominasi sepeda motor, baik roda dua maupun tiga, sebanyak 212.414 unit. Disusul angkutan barang sebanyak 29.174 unit dan angkutan orang (bus) sebanyak 21.269 unit. Dari sisi kepatuhan, masih banyak pelaku kecelakaan yang tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM). Tercatat ada 63.013 pelaku kecelakaan tanpa SIM, jauh lebih tinggi dibandingkan pemegang SIM C sebanyak 14.033 orang dan SIM A sebanyak 1.052 orang. “Ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam aspek kepatuhan, kompetensi, serta pengawasan,” kata Rio. Ilustrasi kecelakaan lalu lintas. Secara umum, angka kecelakaan lalu lintas juga masih memprihatinkan. Sepanjang 2025, tercatat 158.508 kejadian kecelakaan, dengan 24.296 korban meninggal dunia dan total 238.878 orang terdampak. Jika dirata-rata, hampir tiga orang meninggal setiap jam, atau satu orang setiap 20 menit di jalan raya Indonesia. Menariknya, sebagian besar kecelakaan justru terjadi dalam kondisi yang relatif ideal. Sebanyak 137.658 kasus terjadi di jalan lurus, 153.930 kasus pada kondisi jalan baik, dan 151.289 kasus saat cuaca cerah. Kondisi ini menunjukkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga sistem secara keseluruhan, mulai dari kendaraan, perilaku pengemudi, hingga pengawasan. Karena itu, momentum mudik dan arus balik seharusnya menjadi titik awal untuk membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan, bukan sekadar perhatian sesaat. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang