Dulu, naik angkutan umum di ibu kota selalu identik dengan kekacauan. Penumpang berebut masuk bus tanpa antrean, naik dan turun di sembarang tempat, sementara sopir mengejar setoran harian tanpa memikirkan kenyamanan penumpang. Tidak ada aturan yang jelas, dan perilaku semaunya itu dianggap wajar oleh banyak orang. Sejak hadirnya TransJakarta lebih dari dua dekade lalu, pengalaman ini mengalami pergeseran. Moda bus koridor ini tidak hanya menghadirkan transportasi massal yang lebih tertib, tetapi juga membentuk perilaku penumpang yang disiplin dan beretika. Muhamad Akbar, pemerhati transportasi, menilai kebiasaan sederhana seperti mengantri, naik-turun di halte, dan menggunakan tiket telah mengubah cara warga memanfaatkan angkutan massal. “TransJakarta memperkenalkan aturan sederhana tapi berdampak besar. Bus hanya berhenti di halte, tiket menjadi prasyarat perjalanan, dan antrean mulai diterapkan,” kata Akbar kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026). Perubahan ini memaksa penumpang menyesuaikan diri dengan aturan yang sebelumnya jarang ditemui di angkutan kota konvensional. Menurut Akbar, kebiasaan ini bukan sekadar soal tertib fisik. “Antrean bukan lagi sekadar barisan fisik, melainkan kesepakatan sosial yang memungkinkan layanan berjalan tertib. Warga belajar menghargai hak dan kenyamanan penumpang lain,” ujarnya. Antrean penumpang Transjakarta rute Sawangan-Lebak Bulus di dekat pintu Tol Desari, Kota Depok, Selasa (6/1/2026). Dengan cara ini, perjalanan menjadi lebih dapat diprediksi, sopir tidak lagi terdorong mengejar setoran secara berisiko, dan keselamatan penumpang mulai terjamin. Budaya penumpang yang terbentuk juga mempermudah integrasi dengan moda transportasi modern lain seperti MRT dan LRT. “Teknologi baru bisa diterima lebih cepat karena masyarakat sudah terbiasa dengan perilaku dasar angkutan massal, dari membeli tiket, berpindah moda, dan mengikuti jalur yang benar,” kata Akbar. Meski masih ada tantangan, seperti kepadatan saat jam sibuk, perubahan budaya ini menjadi fondasi penting bagi pengelolaan angkutan umum yang lebih tertib dan manusiawi. “Pelajaran dari TransJakarta menunjukkan bahwa membangun layanan publik tidak cukup hanya dengan infrastruktur atau teknologi. Budaya penumpang harus dibangun bersamaan agar sistem berjalan efektif,” kata Akbar. Lebih dari dua dekade, TransJakarta membuktikan bahwa etika dan kebiasaan penumpang sama pentingnya dengan kualitas bus dan jalur. Dengan budaya yang kuat, angkutan massal bukan lagi sekadar transportasi, tetapi bagian dari kehidupan kota yang tertib dan nyaman. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang