Insiden yang melibatkan taksi listrik VinFast VF e34 di kawasan Bekasi Timur kembali memunculkan perhatian terhadap karakter teknis kendaraan listrik, khususnya terkait sistem penguncian saat mobil kehilangan daya. Berbeda dengan mobil konvensional, kendaraan listrik umumnya tidak lagi menggunakan tuas transmisi mekanis. Sebagai gantinya, seluruh pengoperasian perpindahan gigi mengandalkan sistem elektronik atau electronic shifter. Pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar, menjelaskan bahwa sistem ini memang menjadi standar pada kendaraan listrik modern. “Semua mobil listrik menggunakan electronic shifter karena tidak memiliki gearbox fisik seperti mobil ICE,” ujar Mahaendra kepada Kompas.com, Selasa (28/4/2026). Menurut dia, kondisi ini membuat kendaraan sangat bergantung pada suplai listrik, termasuk saat ingin memindahkan posisi transmisi ke netral (N). Taksi Green SM tertabrak kereta Commuter Line di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Ketika daya listrik terputus, misalnya akibat aki 12 volt melemah atau habis, sistem tidak dapat merespons perintah perpindahan gigi. Akibatnya, kendaraan tetap berada dalam kondisi terkunci dan tidak bisa didorong. “Tanpa power, tidak ada cara cepat untuk melepas penguncian ke posisi netral agar mobil bisa dipindahkan,” kata dia. Dalam praktik di lapangan, proses evakuasi kendaraan listrik yang mogok biasanya memerlukan langkah tambahan. Salah satunya dengan mengembalikan suplai daya sementara menggunakan jump starter. “Kalau mogok karena aki 12V soak, petugas biasanya akan coba jump start dulu. Walaupun mobil belum tentu bisa dinyalakan, setidaknya masih ada kemungkinan bisa di-shift ke posisi netral,” ujar Mahaendra. Ia menambahkan, prosedur tersebut sudah menjadi standar di berbagai negara, di mana kendaraan derek umumnya dilengkapi dengan perangkat jump pack untuk menangani situasi serupa. Dengan demikian, kondisi kendaraan yang tidak dapat didorong saat kehilangan daya bukan semata terjadi pada satu model atau merek tertentu, melainkan merupakan karakter umum dari sistem kendaraan listrik modern. Meski begitu, Mahaendra menekankan bahwa setiap insiden tetap perlu dilihat secara utuh, termasuk faktor kondisi kendaraan, lingkungan, serta respons penanganan di lokasi kejadian, sebelum menarik kesimpulan teknis lebih jauh. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang