Sebuah taksi listrik Green SM tertabrak KRL Commuter Line di Bekasi, Jawa Barat. Kecelakaan itu memicu kecelakaan yang lebih parah, yaitu tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.Diduga mobil taksi hijau Green SM itu mogok di tengah perlintasan kereta api. Akibat kecelakaan KRL dengan mobil taksi listrik itu, kereta commuter line lainnya tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Nahas, kereta commuter line yang tertahan di Stasiun Bekasi Timur ditabrak Kereta Argo Bromo Anggrek.Perlu diketahui, untuk melewati perlintasan kereta api, pengendara harus paham cara amannya. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara tegas mengatur bahwa pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. Secara khusus, Pasal 114 menyatakan bahwa setiap pengguna jalan yang akan melewati perlintasan sebidang wajib berhenti, melihat dan mendengar, serta hanya melintas jika kondisi telah aman. Sementara itu, Pasal 296 mengatur sanksi pidana kurungan maksimal tiga bulan atau denda maksimal Rp 750.000 bagi pelanggar yang tetap melintas meski sinyal berbunyi atau palang pintu sudah mulai menutup.Selain itu, Pasal 124 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian juga menegaskan bahwa setiap pengguna jalan wajib mendahulukan kereta api di titik perpotongan sebidang antara jalur KA dan jalan raya.Menurut praktisi keselamatan berkendara yang juga founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, cara aman untuk melewati perlintasan kereta api adalah dengan memastikan area clear. Kalau perlu buka kaca mobil untuk mengetahui apakah area benar-benar clear dari kereta lewat."Turunin kaca sedikit untuk mendengar bunyi kereta ketika kita akan melintasi lintasan kereta yang sepi tanpa palang pintu. Buka kaca, kanan-kiri supaya bisa mendengar, bisa juga menjadi notifikasi kepada kita.Kalau di luar negeri, aturan hukumnya kaca harus diturunin. Kalau enggak, bisa kena tiket (tilang)," ujar Jusri kepada detikOto, Selasa (28/4/2026).Jusri bilang, kalau pakai mobil metric seharusnya tidak menjadi masalah. Yang kerap menjadi kendala adalah mobil dengan transmisi manual."Mobil matic karena RPM-nya terjaga.Mobil manual begitu RPM turun, kita harus balancing-kan dengan kopling. Kalau tidak, akan terjadi stall, mati. Nah, pada saat itu kalau medan magnetnya besar, langsung mati dia," katanya."Nah, jadi apa yang harus kita lakukan di situ, kalau kita bergeraknya perlahan-lahan untuk mobil manual khususnya, usahakan pilih gigi yang sesuai dengan kecepatan yang akan kita lintasi. Terus kemudian cermati lintasan yang akan kita lewati. Jangan sampai Anda stuck di situ karena ketidakrataan permukaan lintasan rel itu yang sering terjadi, berbukit, batu dan lain-lain. Jadi, gunakan gigi sesuai putaran mesin dan gunakan putaran mesin redah. Pilih lintasan yang akan dilewati, jangan sampai terjadi stuck akibat permukaan tersebut. Kalau mobil metik, tidak masalah.