JAKARTA, KOMPAS.com - Turunan panjang di kawasan pegunungan kerap menjadi ujian berat bagi sistem pengereman mobil. Sayangnya, masih banyak pengemudi yang tanpa sadar melakukan kebiasaan keliru saat melintasi jalan menurun, mulai dari terlalu sering menginjak pedal rem hingga abai membaca tanda-tanda awal rem bermasalah. Kesalahan kecil tersebut tentu bisa mempercepat terjadinya rem blong yang berisiko fatal. Menurut Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, salah satu kesalahan paling umum adalah mengandalkan rem terus-menerus saat mobil melaju menurun. Kebiasaan ini membuat sistem pengereman bekerja terlalu keras dan mengalami panas berlebih. Ilustrasi kampas rem mobil “Kalau rem sudah bau itu tandanya kampas rem terbakar. Tapi kalau rem sudah terasa blong, berarti piringannya sudah terlalu panas dan tidak bisa lagi membuang panas,” kata Lung Lung kepada Kompas.com, Senin (5/1/2026). Ia menjelaskan, secara prinsip kerja, rem mobil berfungsi mengubah energi kinetik menjadi energi panas. Saat turunan panjang, panas tersebut akan terus terakumulasi jika pengemudi tidak memberi jeda pendinginan, sehingga performa pengereman menurun drastis. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah pengemudi tetap memaksakan perjalanan meski sudah tercium bau rem. Menurut Lung Lung, kondisi ini seharusnya menjadi sinyal untuk berhenti sejenak agar sistem rem bisa mendingin sebelum digunakan kembali. Selain cara berkendara, pemilihan komponen rem juga berpengaruh. Banyak pemilik mobil tergiur mengganti kampas rem dengan tipe karbon atau keramik tanpa mempertimbangkan karakter mobil harian. Padahal, material tersebut lebih cocok untuk penggunaan performa tinggi dan justru bisa mempercepat keausan piringan rem jika dipakai tidak sesuai peruntukannya. Lung Lung juga mengingatkan soal kondisi minyak rem yang kerap luput dari perhatian. Minyak rem yang jarang diganti akan menyerap uap air dari udara sehingga titik didihnya menurun. Akibatnya, saat suhu tinggi, rem menjadi tidak pakem dan terasa blong. “Kalau mau mobilnya kencang, yang paling penting itu harus bisa berhenti dengan aman. Rem ini soal keselamatan, jadi jangan asal hemat atau asal modifikasi,” ujar Lung Lung. Ia menyarankan pengemudi selalu memastikan kondisi rem sebelum melintasi jalur pegunungan, menggunakan engine brake saat turunan, serta tidak ragu berhenti jika muncul gejala tidak normal. Langkah sederhana ini dinilai jauh lebih aman dibanding memaksakan perjalanan dengan risiko rem gagal berfungsi. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang