Mobil hybrid kini semakin banyak digunakan konsumen di Indonesia karena menawarkan efisiensi bahan bakar dan teknologi yang lebih modern. Namun, sayangnya banyak pemilik yang tanpa sadar melakukan kebiasaan buruk yang justru bisa mempercepat kerusakan, terutama pada komponen baterai dan mesin. Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, mengatakan banyak pemilik yang memperlakukan mobil hybrid seperti mobil konvensional. Padahal, sistem kerja keduanya sangat berbeda, terutama dalam hal perawatan mesin dan baterai. “Kebanyakan orang-orang yang beli mobil hybrid tuh gak ngerti perawatan untuk baterainya. Justru mobil hybrid tuh gak boleh diam lebih dari dua minggu,” kata Lung Lung saat dikonfirmasi Kompas.com, baru-baru ini. Test drive Honda HR-V Hybrid varian termurah Menurutnya, baterai pada mobil hybrid membutuhkan sirkulasi daya yang rutin. Jika mobil terlalu lama dibiarkan tidak digunakan, tegangan baterai traksi bisa turun dan berpotensi merusak sel di dalamnya. Berbeda dengan aki biasa, baterai hybrid memiliki sistem pendinginan dan kontrol yang sensitif terhadap ketidakseimbangan daya. Selain itu, kesalahan lain yang sering ditemui adalah penggunaan oli yang tidak sesuai. Banyak pengguna beranggapan bahwa mobil hybrid bisa menggunakan oli yang sama dengan mobil bensin biasa. Padahal, sistem kerja mesin hybrid yang menggunakan Atkinson cycle menuntut oli dengan viskositas lebih encer seperti 0W-16 atau 0W-20. Tidak hanya itu, kebiasaan memanaskan mobil hybrid dalam posisi diam juga dinilai masih banyak yang keliru. Sistem komputer pada mobil hybrid sudah dirancang untuk menyalakan dan mematikan mesin secara otomatis sesuai kebutuhan daya. Memanaskan mesin terlalu lama justru membuat sistem bekerja tidak efisien dan membebani baterai. Lung Lung menegaskan, kunci utama agar mobil hybrid awet adalah penggunaan rutin, servis berkala, dan pemilihan oli yang sesuai rekomendasi pabrikan. Jika dirawat dengan benar, baterai mobil hybrid bisa bertahan lebih dari 8–10 tahun tanpa masalah berarti. “Mobil hybrid itu efisien banget, tapi jangan diperlakukan kayak mobil biasa. Harus tahu karakternya,” ujar Lung Lung. Untuk itu, penting menerapkan penggunaan yang tepat, rutin melakukan perawatan, serta mengikuti rekomendasi pabrikan agar mobil tetap awet dan efisien. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang