Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang disimpan terlalu lama masih sering dianggap sepele pemilik kendaraan. Padahal, kualitas BBM bisa menurun seiring waktu, terutama jika disimpan dalam kondisi yang tidak ideal. Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Jayan Sentanuhady mengatakan, ada kerugian jika menggunakan BBM yang terlalu lama disimpan. “Dampak mesin mobil pakai BBM yang sudah terlalu lama disimpan bisa membuat performa menurun dan adanya potensi kerusakan komponen seperti injektor,” kata Jayan kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut Jayan, penyimpanan BBM di tangan konsumen masih bisa ditoleransi 3 sampai 6 bulan, tergantung cara penyimpanan dan jenisnya. Barang bukti jeriken yang digunakan pelaku untuk menampung BBM bersubsidi dari tangki sepeda motor, Rabu (22/04/2026) (Doc Polresta Sidoarjo) “Umumnya BBM yang mengandung nabati seperti biodiesel dan etanol lebih cepat mengalami degradasi,” ucap Jayan. Tempat penyimpanan BBM ideal adalah tangki yang kedap udara. Namun, kondisi tersebut tidak memungkinkan terjadi pada tangki BBM pada kendaraan. “Secara umum B100 atau etanol masih mampu bertahan bila disimpan selama 3 bulan, bila lebih dari itu risikonya terjadi penurunan kualitas,” ucap Jayan. Sementara itu, Guru Besar Institut Teknologi Bandung yang juga pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri mengatakan, kebiasaan menyimpan bahan bakar dalam jangka waktu lama justru bisa menyebabkan penurunan kualitas dan munculnya masalah pada sistem bahan bakar kendaraan. “Kalau yang ditimbun itu B40, maka disarankan untuk tidak lebih dari 3 bulan. Karena B40 itu campuran antara solar sama biodiesel. Atau B0 dengan B100 dengan perbandingan 60 persen solar dan 40 persen biodiesel atau FAME sama saja,” kata Tri kepada Kompas.com. Tri menjelaskan, karena pencampurannya tidak secara kimiawi dan hanya tercampur secara fisik, maka disarankan untuk tidak menyimpan lebih dari tiga bulan. “Karena akan pisah, jadi solarnya akan ada di atas karena lebih ringan sedikit dan biodieselnya akan di bawah, karena secara densitas atau massa jenis lebih berat sedikit. Jadi kalau terlalu lama ditimbun akan misah seperti itu,” kata Tri. Kemudian, untuk mencampurnya, Tri mengatakan perlu diaduk. Namun, ia mengingatkan bahwa biodiesel memiliki sifat higroskopis, yakni mudah menyerap uap air dari udara. “Tapi, jangan lupa jika biodiesel itu punya sifat higroskopis atau menarik uap air di udara. Jadi kalau disimpan terlalu lama maka kadar airnya akan naik,” katanya. Tri melanjutkan, jika ada air di dalam bahan bakar B40 yang disimpan, maka akan terbentuk emulsi, yaitu campuran antara bahan bakar dengan air. “Di dalam emulsi itulah kemudian tumbuh bakteri, lumut, jamur dan sebagainya. Sehingga membentuk seperti gel. Kalau gel itu kemudian di bahan bakar itu digunakan di kendaraan misalnya. Kemudian gelnya ada, lalu terhisap oleh pembakar, masuk ke mesin. Maka dia akan nyumbat di filter,” katanya. Akibatnya, mobil akan kehilangan daya dan hanya bisa berjalan dengan gigi rendah karena suplai bahan bakar ke mesin berkurang. Selain itu, Tri menambahkan bahwa jika solar atau biodiesel disimpan terlalu lama, kotoran di dalam bahan bakar akan semakin banyak. Barang bukti penimbunan biosolar diamankan Polda Bengkulu (Dok, Polda Bengkulu). Endapan tersebut kemudian bisa menimbulkan deposit pada injektor, sehingga volume bahan bakar yang masuk ke ruang bakar menjadi lebih sedikit. “Akibatnya, daya mesin ikut menurun. Jadi kalau ada orang yang menimbun B40, ya risikonya seperti itu,” katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang