Menjelang libur akhir tahun, risiko kecelakaan yang melibatkan mobil niaga seperti travel, Elf, dan bus pariwisata meningkat. Salah satu kejadian yang paling fatal adalah mobil terguling saat melaju di kecepatan tinggi. Menurut ahli keselamatan berkendara, hal ini tidak hanya disebabkan oleh kondisi jalan licin atau rem blong, tetapi juga karena kurangnya orientasi dan pemahaman pengemudi terhadap karakter mobil yang dikendarai. Nampak dua truk terguling setelah terlibat kecelakaan karombol di Jalan Tol Solo–Ngawi KM 564, tepatnya di wilayah Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Selasa (4/11/2025). Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), mengatakan bahwa banyak pengemudi belum melakukan orientasi kendaraan sebelum berangkat. “Ada kemungkinan pengemudi tidak melakukan orientasi sebelum berkendara. Artinya, bisa saja terjadi kasus mobil selip atau keluar dari kendali. Hal itu biasanya terjadi karena pengemudi tidak melakukan persiapan dengan benar,” ujar Sony kepada Kompas.com (13/11/2025). Ia menegaskan pentingnya mengenali karakter mobil sebelum digunakan. Sebab, hal ini merupakan bagian dari pedoman defensive driving untuk memastikan bahwa kendaraan benar-benar berada di bawah kendali kita sebelum digunakan di jalan. “Itu sebabnya penting untuk melakukan orientasi sebelum berkendara. Biasakan untuk mengenali karakter mobil lebih dulu—bagaimana keseimbangannya, termasuk pitch, yawing, dan rolling-nya,” kata dia. Ilustrasi berkendara saat hujan. Prakiraaan cuaca wilayah Bogor, Jawa Barat Lebih lanjut, Sony menambahkan bahwa jika orientasi tersebut tidak dilakukan dan pengemudi kehilangan kontrol hingga mobil slip, maka akan sulit untuk mengatasinya. Secara umum, ada empat jenis gerakan atau osilasi pada bodi kendaraan yang sering tidak disadari pengemudi namun berpotensi membuat mobil terguling jika diabaikan. Pertama adalah rolling, yaitu pergerakan saat mobil berbelok tajam sehingga penumpang di dalam terasa terlempar ke salah satu sisi akibat gaya sentrifugal. Ilustrasi proses spooring ban mobil. Kondisi ini biasanya terjadi karena pegas rusak di satu sisi, sokbreker bocor, keausan ban tidak merata, atau penyetelan geometri roda yang salah. Kedua adalah pitching, yakni gerakan naik-turun pada bagian depan atau tengah kendaraan yang terlihat dari samping. Gerakan ini sering disebabkan oleh pegas yang sudah lemah sehingga mobil tampak mengangguk saat melaju atau mengerem. Ilustrasi ban haus. Ketiga adalah yawing, yaitu kondisi ketika mobil oleng ke kanan dan kiri tanpa pengemudi membelokkan setir. Gerakan ini muncul karena ban yang sudah haus, terutama saat kendaraan melewati jalan licin. Akibatnya, bagian depan dan belakang mobil bisa bergeser ke arah yang berlawanan. Ilustrasi berkendara dengan Jetour Dashing rute Bandung-Jakarta Terakhir adalah bouncing, yaitu gerakan naik-turun seluruh bodi kendaraan secara bersamaan atau yang biasa disebut “ajrut-ajrutan”. Bouncing umumnya terjadi saat mobil melewati jalan bergelombang atau polisi tidur, dan disebabkan oleh sokbreker yang sudah lemah sehingga tidak mampu meredam ayunan mobil. Menurut Sony, memahami empat gerakan dasar ini membantu pengemudi mengenali tanda-tanda awal ketidakstabilan kendaraan. “Begitu mobil mulai menunjukkan gejala oleng atau memantul berlebihan, sebaiknya segera periksa kondisi suspensi, ban, dan posisi muatan,” katanya. Ia menambahkan, kesalahan kecil seperti pengaturan duduk yang salah atau kondisi ban yang haus di satu sisi bisa menjadi pemicu fatal di jalan. Karena itu, terutama bagi sopir travel dan bus yang membawa banyak penumpang, mengenali karakter kendaraan serta menjaga kondisi komponennya tetap prima menjadi kunci utama agar perjalanan liburan aman dan selamat sampai tujuan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.