- Kasus kecelakaan yang dipicu oleh rem blong banyak dijumpai belakangan ini. Hal ini menimbulkan rasa khawatir bagi pengendara, misal terjadi rem blong di jalan. Saat rem tak bisa memperlambat laju kendaraan, maka mobil bisa kehilangan kendali, terlebih lagi saat kecepatan tinggi atau jalan menurun. Sebenarnya, pencegahan rem blong bisa dilakukan oleh setiap pengemudi dengan menerapkan berkendara yang aman dan rutin merawat kendaraan, khususnya sistem rem. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan pencegahan rem blong bisa dilakukan dengan rutin merawat sistem rem mobil. “Periksa rem secara berkala, tujuannya untuk memastikan komponen selalu dalam kondisi prima, bersihkan dan lumasi ulang komponen agar rem bekerja dengan optimal,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Minggu (4/1/2026). Kampas rem yang mulai tipis sebaiknya diganti segera. Minyak rem wajib diganti secara berkala, yakni tiap 40.000 Km atau ketika sudah menghitam. Ilustrasi minyak rem mobil “Minyak rem sering diabaikan, karena dikira tak berpengaruh banyak terhadap performa rem, padahal ketika panas, minyak yang sudah jelek akan lebih mudah menguap menyebabkan rem ngempos,” ucap Imun. Selain itu, pengendara juga sebaiknya menghindari menggunakan rem utama terlalu lama durasinya. Seperti ketika mobil melewati jalan menurun panjang. “Kebiasaan pengemudi memperlambat laju kendaraan, yakni dengan cara menginjak pedal rem setengah, tujuannya memperlambat tapi mobil tetap bisa melaju, padahal ini bahaya,” ucap Imun. Proses pelumasan ulang kampas rem mobil Kampas rem yang bergesekan dengan cakram atau tromol dalan durasi lama atau setengah justru akan lebih cepat panas, akibatnya terjadi overheating. “Saat melewati jalan menurun panjang, pengendara bisa menggunakannya gigi rendah tanpa menginjak pedal rem, engine brake akan membuat laju mobil pelan tapi tetap aman,” ucap Imun. Hardi Wibowo, pemilik bengkel Spesialis Nissan - Honda, Aha Motor Yogyakarta mengatakan, pengendara perlu membiasakan mengocok pedal rem setiap sebelum berkendara. Ilustrasi mengerem mobil. “Dengan menginjak pedal rem beberapa kali, maka akan ketahuan performa sistem rem baik atau tidak, sehingga ketika terjadi masalah rem, minimal tidak dalam kondisi sedang melaju di jalan raya,” ucap Hardi kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Pasalnya, tak semua masalah rem akan memunculkan nyala lampu indikator di layar informasi (MID). Maka dari itu, pengemudi sepatutnya mengetahui gejala atau tanda bahwa sistem sedang tidak baik-baik saja. “Seperti rem ngempos, maka pedal akan terasa lebih dalam daripada biasanya, sedangkan bila booster rem bermasalah maka pedalnya terasa keras, meski mesin sudah hidup,” ucap Hardi. Selain meminimalisasi risiko rem blong, menurut Hardi, tingkat ketinggian pedal rem satu mobil dengan lainnya tidak sama. Sehingga, pengemudi perlu mengetahui batas kampas rem menyentuh cakram. “Dengan mengetahui ketinggian pedal rem saat kampas bersentuhan dengan cakram, maka pengemudi dapat memperkirakan pengereman dimulai di level menginjakan rem seberapa dalam,” ucap Hardi. Selain soal keselamatan, pengereman perlu dilakukan dengan menginjak pedal rem secara perlahanagar penumpang tetap merasa nyaman. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang