Pebalap Pertamina VR46 Racing Team, Fabio Di Giannantonio, mengaku kesulitan melakukan manuver menyalip pada Sprint Race MotoGP Jerman 2026 di Sirkuit Sachsenring, Sabtu (11/7/2026). Di Giannantonio finis di posisi ketiga di belakang Marquez bersaudara. Meski merasa memiliki kecepatan untuk bersaing memperebutkan kemenangan, pebalap asal Italia itu menilai karakter Sachsenring membuat peluang menyalip menjadi sangat terbatas. "Sirkuit ini benar-benar sangat sulit untuk menyalip. Begitu berada di belakang pebalap lain, suhu ban depan langsung meningkat," katanya dikutip Crash.net, Sabtu. Less than a second covers the top 4 ???? IT'S ON!#GermanGP ???????? pic.twitter.com/kJ0LRebcc0 — MotoGP™???? (@MotoGP) July 11, 2026 Ban Depan Cepat Panas Menurut Di Giannantonio, masalah utama muncul ketika harus membuntuti pebalap lain. Aliran udara yang terganggu membuat suhu ban depan meningkat drastis sehingga motor menjadi sulit dikendalikan, terutama di sirkuit yang didominasi tikungan seperti Sachsenring. "Dengan banyaknya tikungan dan sudut kemiringan motor, sangat sulit menjaga kecepatan sekaligus mencoba menyalip," ujarnya. Pada awal balapan, ia sempat berhasil merebut kembali posisi ketiga dari Ai Ogura. Setelah itu, Di Giannantonio memilih menjaga jarak dengan Alex Marquez untuk memberi kesempatan ban depan kembali ke suhu kerja ideal sebelum mencoba melakukan serangan. "Saya mencoba memberi sedikit ruang di pertengahan balapan agar ban depan bisa kembali dingin. Namun, itu tidak cukup. Menyalip Alex saat itu risikonya terlalu besar," katanya. 2 laps to go, still all to play for between @marcmarquez93, @alexmarquez73 and @FabioDiggia49 ???? #GermanGP ???????? pic.twitter.com/v9ZmocKP1a — MotoGP™???? (@MotoGP) July 11, 2026 Marc Marquez Mengendalikan Balapan Di Giannantonio meyakini dirinya memiliki kecepatan untuk melaju lebih kencang. Namun, ia juga menilai Marc Marquez tidak tampil dengan kecepatan maksimal karena mampu mengontrol jalannya balapan sejak awal hingga finis. "Saya merasa masih punya kecepatan lebih. Tetapi saya juga yakin Marc tidak memacu motornya hingga batas maksimal. Dia mengendalikan balapan, dan itu hal yang wajar," ujarnya. Menurut dia, tantangan terbesar bukanlah mengejar catatan waktu, melainkan mempertahankan performa motor saat berada tepat di belakang pebalap lain. Kondisi tersebut membuat ban depan terus bekerja di luar kondisi ideal sehingga sulit menjaga ritme balap. Fabio Di Giannantonio saat berlaga pada MotoGP Thailand 2026 "Walaupun merasa lebih cepat, saat berada di belakang pebalap lain rasanya seperti mimpi buruk untuk sekadar mempertahankan kecepatan. Karena itu, kami membutuhkan ruang agar ban depan kembali bekerja dengan baik," ucap Di Giannantonio. Ia menambahkan, strategi menghemat ban belakang justru sering kali berdampak pada meningkatnya beban kerja ban depan. Kendati demikian, ia optimistis tim dapat memanfaatkan data dari Sprint Race untuk melakukan penyempurnaan setelan motor menghadapi balapan utama MotoGP Jerman.