Pergantian pemasok ban MotoGP mulai musim 2027 memunculkan kembali pertanyaan lama yang selama ini kerap menjadi bahan spekulasi, yakni siapa yang sebenarnya membayar biaya penyediaan ban di ajang balap motor paling bergengsi tersebut. Selama ini, MotoGP dikenal sebagai salah satu kejuaraan yang minim transparansi terkait aspek finansial. Besaran gaji pebalap, nilai kontrak pabrikan, hingga pembagian biaya operasional jarang diungkap ke publik. Namun, perubahan kepemilikan MotoGP ke tangan Liberty Media, perusahaan asal Amerika Serikat, diperkirakan akan membawa budaya yang lebih terbuka terkait urusan bisnis di balik kejuaraan. Pergantian Pemasok Ban MotoGP Salah satu komponen dengan biaya terbesar dalam dunia balap adalah ban. Pada masa lalu, beberapa pabrikan saling bersaing memasok ban sehingga investasi yang dikeluarkan jauh lebih besar. Pirelli menjadi pemasok ban tunggal di MotoGP mulai 2027 Kini, hampir seluruh kejuaraan balap dunia hanya menggunakan satu pemasok tunggal, termasuk Formula 1, NASCAR, IndyCar, World Rally Championship (WRC), World Superbike (WSBK), dan MotoGP. MotoGP sendiri pertama kali menggunakan sistem pemasok tunggal pada 2009 melalui Bridgestone. Pabrikan asal Jepang itu bertugas hingga musim 2015 sebelum digantikan Michelin mulai 2016. Musim 2026 menjadi tahun terakhir Michelin sebagai pemasok ban MotoGP. Mulai 2027, bersamaan dengan hadirnya regulasi baru dan penggunaan mesin 850 cc, Pirelli akan mengambil alih sebagai pemasok resmi untuk MotoGP, Moto2, dan Moto3. Pergantian tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan, mulai dari apakah Pirelli membayar MotoGP agar bisa menjadi pemasok resmi, siapa yang menanggung biaya ban, hingga berapa sebenarnya harga satu ban MotoGP. Tekanan udara pada ban motor MotoGP sangat memengaruhi performa motor Negosiasi Biaya dengan Promotor Giorgio Barbier, Direktur Balap Motor Pirelli, mengatakan, dalam setiap kompetisi motor atau Formula 1, di setiap kompetisi, produsen ban membayar promotor "Saya mengerti jika pabrikan mengatakan, 'Saya adalah pemasok tunggal untuk MotoGP dan saya membayar biaya'. Misalnya, enam juta. Tetapi kemudian saya menambahkan, semua ban harganya 36 juta euro. Dan Anda membayar 36 juta euro itu," ujar Barbier, dikutip dari Motorsport.com, Senin (27/7/2026). Menurut Barbier, skema tersebut tidak sesederhana biaya lisensi semata karena terdapat banyak komponen lain yang menjadi bagian dari kesepakatan antara promotor dan pemasok ban. Marco Bezzecchi saat sesi tes motor MotoGP 850 cc di Sirkuit Brno "Itu adalah negosiasi, itu bagian dari kesepakatan dengan promotor. Karena satu hal adalah biaya ban, tetapi ada juga layanan, personel, seluruh organisasi. Itu adalah biaya yang signifikan. Biaya adalah satu hal," kata Barbier. "Kemudian ada semua biaya tambahan, yang juga signifikan. Bagaimana Anda harus mengatur diri Anda di pabrik, prosesnya, dan sebagainya. Kemudian Anda dapat mengatakan kepada promotor, 'Maukah Anda membantu saya menutupi sebagian dari biaya ini? Atau, 'Ini adalah jumlah biaya dan ini adalah biayanya'. Itu adalah negosiasi," ujarnya. Tim MotoGP Tidak Membayar Ban Lalu bagaimana dengan tim MotoGP? Apakah mereka juga harus membayar ban yang digunakan setiap akhir pekan balapan? Barbier mengatakan, skema tersebut berbeda dengan kejuaraan World Superbike. Tekanan udara pada ban motor MotoGP sangat memengaruhi performa motor "Di Superbike, mereka melakukannya. Di MotoGP, saat ini, hal itu belum dipertimbangkan. Itu terjadi di Moto3 dan Moto2, tetapi di MotoGP, hal itu belum dipertimbangkan," kata Barbier. Mengapa Ban MotoGP Tidak Dijual Bebas? Kontrak MotoGP juga mengatur bahwa Pirelli tidak boleh menjual ban yang digunakan di kelas utama kepada pihak lain. Tujuannya agar tidak ada tim yang dapat membeli ban identik untuk melakukan pengujian secara mandiri di luar jadwal resmi. Karena itu, penggunaan ban MotoGP dikontrol secara ketat. Setiap pabrikan hanya memperoleh alokasi ban uji dalam jumlah terbatas setiap musim, berkisar antara 170 hingga 260 unit, bergantung pada status konsesi yang dimiliki. Meski tidak dapat menjual ban MotoGP kepada publik, Barbier menegaskan bahwa teknologi yang digunakan tetap menjadi dasar pengembangan ban performa tinggi milik Pirelli. "Kami tidak dapat menjual ban MotoGP, tetapi kami dapat menjamin kepada pelanggan kami bahwa ban sport Pirelli dibuat oleh para insinyur dan teknisi yang sama, di pabrik yang sama di Breuberg (Jerman) tempat kami memproduksi kompon balap, dan dengan semangat sportif yang sama yang menjadi ciri khas merek kami," jelas Barbier, meskipun ia tidak dapat memberikan harga satu ban pun. Harga Ban MotoGP Masih Dirahasiakan Saat diminta mengungkap harga ban MotoGP, Barbier tetap enggan memberikan angka pasti. Namun, ia memberikan gambaran melalui harga ban balap yang sudah dijual secara komersial. "Jelas, saya tidak dapat memberi tahu Anda harga pastinya, tetapi saya dapat memberi Anda petunjuk, 'Berapa harga ban di motor Anda?'," ujarnya. Untuk diketahui, saat ini, ban belakang Diablo Superbike harganya sekitar 300 euro atau Rp 6 jutaan. "Kami membuat prototipe MotoGP di mesin yang sama dan di pabrik yang sama tempat kami membuat ban itu (yang seharga 300 euro). Saya hanya mengubah materialnya. Saya mungkin mengubah sesuatu dalam prosesnya. Tetapi biaya saya tidak akan pernah jauh berbeda," katanya, memberikan petunjuk terakhir.