Tekanan udara ban menjadi salah satu faktor penting dalam balapan sepeda motor terutama di kelas premier MotoGP. Bukan hanya berpengaruh terhadap performa motor, tekanan ban yang terlalu rendah juga dapat membuat pebalap terkena penalti. MotoGP bahkan sudah menerapkan sistem pemantauan tekanan ban secara real-time sejak pertengahan musim 2023. Sistem tersebut digunakan untuk memastikan setiap motor memenuhi batas tekanan ban yang telah ditentukan. Aturan ini diterapkan karena tekanan ban sangat sensitif dan dapat berubah sepanjang balapan. Ban balap untuk motor MotoGP yang dipasok oleh Michelin Dilansir dari Crash, perubahan suhu ban, kondisi lintasan, cuaca, hingga posisi pebalap terhadap motor lain dapat memengaruhi tekanan ban. Tekanan Ban Tekanan ban tidak bisa dibuat sembarangan oleh tim. Ada batas minimum yang harus dipenuhi selama persentase tertentu dari jarak balapan. Jika tekanan ban terlalu rendah, karakter ban dapat berubah dan berpengaruh terhadap cara motor bekerja di lintasan. Pada sisi lain, tim juga tidak bisa begitu saja menaikkan tekanan ban karena tekanan yang terlalu tinggi juga dapat mengurangi performa dalam kondisi tertentu. Masalahnya, tekanan ban selama balapan terus berubah alias fluktuatif. Ketika pebalap berada di udara bebas atau tidak berada di belakang motor lain, suhu dan tekanan ban depan dapat turun. Ban balap untuk motor MotoGP yang dipasok oleh Michelin Sebaliknya, ketika berada di belakang motor lain dan terkena dirty air, suhu serta tekanan ban dapat meningkat. Karena itu, menentukan tekanan awal ban menjadi pekerjaan yang cukup rumit bagi tim. Pada regulasi yang berlaku pada 2026, tekanan minimum ban depan ditetapkan 1,80 bar sedangkan ban belakang 1,68 bar. Untuk balapan Grand Prix dengan jarak lebih dari 15 lap, pebalap harus memenuhi tekanan minimum tersebut setidaknya selama 60 persen jumlah lap. Sementara pada Sprint, tekanan minimum harus terpenuhi selama setidaknya 30 persen jumlah lap. Aturan tersebut tidak berarti tekanan ban harus selalu berada di atas batas minimum pada setiap lap. Sebab yang diperhitungkan adalah persentase lap ketika tekanan ban memenuhi ketentuan. Luca Marini saat sesi tes motor MotoGP 850 cc di Sirkuit Brno Untuk balapan Grand Prix yang hanya berlangsung 7-15 lap, persentase tersebut turun menjadi 30 persen. Bisa kena penalti Jika pebalap tidak memenuhi persentase minimum tekanan ban, sanksi tidak diberikan secara langsung saat balapan berlangsung. Pada 2026, pelanggaran tersebut dapat membuat pebalap dikenai penalti waktu 16 detik setelah balapan Grand Prix. Sementara untuk Sprint, penalti yang diberikan adalah 8 detik. Artinya, pebalap bisa saja melewati garis finis lebih dulu, tetapi kemudian posisinya berubah setelah penalti waktu ditambahkan ke catatan waktunya. Menentukan tekanan ban awal bukan perkara sederhana. Tim harus memperhitungkan data latihan, karakteristik sirkuit, suhu lintasan, kondisi cuaca, hingga kemungkinan posisi pebalap selama balapan. Pebalap Trackhouse Racing MotoGP, Ai Ogura, beraksi dalam sesi latihan bebas pertama dalam rangkaian MotoGP Catalunya di Sirkuit Barcelona-Catalunya di Montmelo, dekat Barcelona, pada 15 Mei 2026. (Foto oleh Lluis GENE / AFP) Karena itu, tekanan awal yang terlalu tinggi juga bukan solusi. Jika tekanan dibuat terlalu tinggi untuk mengantisipasi kenaikan temperatur, pebalap dapat kehilangan performa ketika berada di belakang motor lain. Pantau dari dasbor Selama balapan, pebalap mendapatkan informasi mengenai kondisi tekanan ban melalui dasbor motor. Informasi tersebut penting karena pebalap dapat mengetahui apakah dirinya berisiko tidak memenuhi batas minimum yang ditentukan. Mulai 2027, regulasi MotoGP akan mengalami perubahan besar, termasuk pergantian pemasok ban dari Michelin ke Pirelli. Perubahan tersebut berpotensi membuat batas tekanan minimum kembali disesuaikan dengan karakteristik ban baru.