KTM menolak usulan aturan satu motor yang sempat dibahas untuk MotoGP. CEO KTM Gottfried Neumeister menilai kebijakan tersebut bisa mengurangi aktivitas pebalap di lintasan ketika terjadi kecelakaan atau masalah teknis. Aturan satu motor yang dimaksud bukan berarti pebalap hanya memiliki satu motor sepanjang akhir pekan. Melainkan berkaitan dengan penggunaan motor pada sesi latihan. Jika motor yang digunakan pebalap mengalami kecelakaan atau kerusakan, pebalap tidak bisa langsung beralih ke motor kedua. Mereka harus menunggu motor tersebut diperbaiki sebelum kembali ke lintasan. Sementara itu, dua motor tetap disiapkan untuk Sprint Race dan balapan utama. Penggunaan motor kedua dianggap penting, termasuk ketika terjadi masalah teknis atau kecelakaan dalam balapan. Mika Kallio mengetes motor KTM tanpa ride-height dan holeshot device Neumeister mengatakan, dirinya memahami kebutuhan MotoGP untuk mengendalikan biaya. Namun, penghematan seharusnya dilakukan pada bagian yang tidak berdampak langsung terhadap aksi balap. "Menurut saya, dalam hal ini saya bisa memahami posisi Liberty dan Dorna. Bukan hanya kami yang terus meminta lebih banyak uang. Sebagai pabrikan, kami juga harus ikut berkontribusi," ujar Neumeister dikutip dari Crash, Rabu (30/9/2026). "Kami juga harus memastikan MotoGP tetap menjadi sebuah pertunjukan yang menarik. Itu bagian yang harus kami lakukan," katanya. "Kemudian soal cost cap, kalau kita tidak bisa mendapatkan lebih banyak uang, menurut saya pembatasan biaya adalah sesuatu yang sangat masuk akal," ujar Neumeister. Aturan Satu Motor Usulan satu motor awalnya digodok menjadi salah satu opsi untuk mengurangi biaya operasional tim MotoGP. KTM Tech3 Namun usulan tersebut pada akhirnya tidak berlanjut setelah mendapat penolakan dari KTM. Dalam pembahasan regulasi yang melibatkan para pabrikan, perubahan seperti ini membutuhkan kesepakatan bersama. Neumeister menilai kebijakan tersebut terlalu berpengaruh terhadap aktivitas pebalap. "Saya sudah menyampaikan dengan jelas bahwa saya tidak menyukai aturan satu motor," katanya. "Menurut saya, pebalap harus diberi kebebasan untuk mendorong motornya sampai batas maksimal, lalu ketika mengalami kecelakaan, mereka bisa kembali ke pit dan langsung menggunakan motor berikutnya," kata dia. Menurut dia, pebalap harus bisa kembali ke lintasan menggunakan motor kedua setelah mengalami kecelakaan. Pedro Acosta saat berlaga pada MotoGP Qatar 2025 "Hal seperti itu adalah bagian dari MotoGP. Karena itu, saya benar-benar menentangnya. Memang kita bisa menghemat sejumlah biaya, tetapi menurut pemahaman saya tentang motorsport, langkah tersebut justru bertentangan dengan esensi balapan," katanya. Cost Cap ala F1 Sebagai alternatif, Neumeister memberikan opsi dengan mendukung pembatasan anggaran atau cost cap seperti yang diterapkan di Formula 1. MotoGP sendiri tengah mengkaji kemungkinan penerapan sistem tersebut untuk mengendalikan pengeluaran tim dan pabrikan. "Saya rasa cost cap di Formula 1 juga tidak selalu benar-benar menjadi batas pengeluaran mutlak," katanya. "Meski begitu, sistem tersebut setidaknya memberikan dasar bagi semua tim untuk bisa bersaing. Sekarang kita bahkan melihat tim-tim yang lebih kecil mampu berada di posisi depan," ujar Neumeister. Dani Pedrosa saat sesi tes motor MotoGP 850 cc di Sirkuit Brno Menurut dia, cost cap dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan batas pengeluaran yang lebih terkontrol tanpa mengurangi persaingan di lintasan. "Saya pikir cost cap akan menjadi hal yang baik untuk MotoGP karena memberikan kesempatan yang lebih setara bagi semua pihak. Jadi, secara umum saya mendukungnya." Meski demikian, Neumeister meminta agar aturan tersebut dibahas bersama seluruh pihak terkait dan tidak diterapkan secara sepihak. "Namun, menurut saya kita harus melakukannya dengan cara yang tepat. Bagi saya, semuanya harus melalui dialog. Bukan satu pihak yang datang lalu memaksakan sesuatu," ujarnya. "Anda boleh memiliki pandangan yang berbeda, tetapi semua pihak perlu duduk bersama, saling mendengarkan terlebih dahulu, kemudian mencari solusi yang benar-benar terbaik untuk olahraga ini," katanya.