Jalan rusak masih menjadi tantangan bagi pengguna mobil harian, terutama di kawasan perkotaan dengan lalu lintas padat. Lubang aspal, tambalan bergelombang, hingga tutup got yang tidak rata sering kali sulit dihindari dan kerap dilintasi begitu saja. Sebagian pengemudi biasanya lebih mengkhawatirkan komponen kaki-kaki dan suspensi saat melintasi permukaan jalan yang tidak mulus. Namun, ada komponen lain yang diam-diam menanggung risiko besar setiap kali roda menghantam permukaan tidak rata, yakni pelek. Lubang jalan, sambungan aspal yang bergelombang, hingga tutup got yang posisinya lebih tinggi atau lebih rendah dari badan jalan kerap dianggap sepele. Pengemudi sering tetap melaju tanpa mengurangi kecepatan secara signifikan, apalagi jika kondisi lalu lintas padat dan sulit bermanuver menghindar. pelek mobil retak Diwan, pemilik bengkel Eurovolution di Jakarta Timur, mengatakan benturan keras dari permukaan jalan tidak rata bisa langsung membebani struktur pelek. Apalagi jika mobil melaju dengan tekanan angin ban yang tidak ideal. “Kalau sering kena lubang atau tutup got dengan kecepatan cukup tinggi, pelek bisa penyok atau bahkan retak halus. Kadang tidak langsung kelihatan,” ujar Diwan kepada Kompas.com, Rabu (25/2/2026). Menurut dia, benturan vertikal yang tajam membuat beban tidak hanya diserap ban dan suspensi, tetapi juga diteruskan ke bibir pelek. Jika terjadi berulang, risiko munculnya keretakan semakin besar, terutama pada pelek berbahan alloy yang lebih kaku dibanding pelek baja. Masalahnya, kerusakan ini kerap tak disadari sejak awal. Gejalanya bisa berupa setir terasa bergetar pada kecepatan tertentu atau tekanan angin ban yang sering berkurang. Dalam beberapa kasus, kebocoran halus muncul akibat deformasi pada bagian dalam pelek. Diwan menyarankan pengemudi lebih waspada saat melintasi jalan rusak, termasuk memperhatikan keberadaan tutup drainase yang sering tidak rata dengan permukaan aspal. “Kalau tidak bisa menghindar, minimal kurangi kecepatan dan jangan mengerem mendadak tepat di atas lubang,” katanya. Selain itu, pengecekan tekanan angin secara berkala menjadi langkah preventif yang tak boleh diabaikan. Tekanan yang sesuai rekomendasi pabrikan membantu ban meredam benturan lebih optimal, sehingga beban yang diterima pelek tidak berlebihan. Dengan kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya mulus, kewaspadaan dan gaya berkendara yang adaptif menjadi kunci. Jalan rusak dan tutup got mungkin terlihat biasa, tetapi bagi pelek mobil harian, keduanya bisa menjadi musuh senyap yang memicu kerusakan jangka panjang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang