Kecelakaan maut di Prambanan, tepatnya di pelintasan sebidang antara Stasiun Brambanan dan Maguwo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada Selasa (4/11/2025) pukul 10:00 WIB terus didalami kronologinya. Kereta Api Bangunkarta jurusan Jombang-Pasar Senen yang mengarah dari timur ke barat, menabrak dua sepeda motor yakni Honda Scoopy dan Vario 160 dan satu mobil Toyota Calya. Kejadian ini menewaskan tiga orang serta melukai enam korban lainnya. Kejadian tersebut diduga karena palang pintu kereta tidak menutup, sehingga masih banyak pengendara berlalu lalang di lokasi kejadian saat kereta melintas. Kepala Daop 6 PT KAI Yogyakarta, Bambang Respationo mengatakan pihaknya masih terus mendalami penyebab terjadinya kecelakaan tersebut. Petugas saat menutup mobil yang tertabrak kereta api di palang pintu Prambanan, Sleman. “Kita belum bisa menyimpulkan penyebab terjadinya kecelakaan ini, alat bukti sedang dikumpulkan, begitu juga kronologinya,” ucap Bambang kepada awak media di TKP, Selasa (4/11/2025). Bambang belum bisa menanggapi terkait dugaan palang pintu kereta tidak menutup saat terjadi peristiwa tersebut, sebagaimana informasi yang beredar di media sosial. Sementara itu, palang pintu kereta di lokasi kejadian saat ini, sudah berfungsi normal. Kapolsek Prambanan, Kompol Dede Setiyarto, mengatakan sekitar pukul 10.00 sampai 10:30 WIB, siang tadi telah terjadi kecelakaan di lintasan kereta api yang melibatkan satu mobil, dua sepeda motor dan dua pejalan kaki. “Total ada 9 korban, 3 meninggal dunia, dan 6 orang luka pada peristiwa siang tadi,” ucap Dede.saat ditemui KOMPAS.com, Selasa (4/11/2025). 3 korban meninggal dunia diketahui merupakan pengendara motor Honda Scoopy dan pengendara Honda Vario berboncengan dengan usia kisaran 60 tahun. Sementara itu, empat korban luka merupakan penumpang mobil yang berisi satu keluarga, yakni suami istri dan dua balita. Suami istri dirawat di Bhayangkara dan yang balita dirawat di Rumah Sakit Islam PDHI. Dua korban lainnya merupakan pejalan kaki yang merupakan seorang ayah dan anaknya. Dede menyebutkan, pihaknya masih mendalami penyebab kecelakaan, termasuk posisi palang pintu dan sistem peringatan. “Kronologi kejadian kami masih mendalami penyebab terjadinya laka kereta api. Yang pasti kami masih kerjasama dengan PT KAI untuk menelusuri penyebab kejadian. Apakah posisi palang menutup atau tidak, kita masih dalami,” tegasnya. Seorang saksi bernama Yesi mengaku melihat langsung detik-detik kecelakaan terjadi. Ia mengatakan, meski kereta sudah membunyikan klakson sejak jauh, palang pintu sisi utara tidak menutup dan sirene tidak berbunyi. “Dari arah timur itu kereta sudah klakson terus, saya lihatnya yang palang pintu sisi utara tidak menutup, masih terbuka. Sirene juga tidak terdengar,” ucap Yesi mengutip dari KOMPAS.com. Palang pintu kereta di Prambanan sudah berfungsi normal yang sebelumnya sebabkan kecelakaan Berhubung palang tidak tertutup, kendaraan masih lalu lalang di pelintasan. Dari arah utara ada mobil merah, belakangnya ada sepeda motor. Mobil yang tertemper kereta juga menghantam pengendara motor Vario yang ada di sebelahnya. Bambang mengatakan, saat ini tim dari PT KAI melakukan pendampingan kepada seluruh korban. Sebagian ada di rumah sakit dan sebagian lain ada di rumah duka. KAI berkomitmen membantu pengurusan asuransi, biaya pengobatan, hingga persiapan pemakaman bagi korban. Sementara petugas penjaga palang pintu kereta api saat ini masih menjalani proses pemeriksaan di unit reskrim, Polsek Prambanan. Sebelumnya, pukul 07.55 WIB, ketika KA 77 Lodaya relasi Solo Balapan–Bandung juga menemper seorang warga di kilometer 151+9 petak jalan Prambanan–Maguwo, masuk area Prambanan, Klaten Jawa Tengah. "Itu kejadian berbeda di hari ini, korban merupakan pejalan kaki menyeberang melalui jalur kereta, namun karena korban mengalami gangguan pendengaran, klakson dari kereta api tak terdengar, kemudian tertabrak," ucap Dede. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.