Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia dinilai mulai melewati fase euforia awal (honeymoon phase). Konsumen otomotif, khususnya dari kelompok kelas menengah, kini bergeser menjadi lebih rasional dan cermat sebelum memutuskan memboyong mobil listrik. Pertimbangan utama tidak lagi sebatas fitur canggih atau performa instan, melainkan kalkulasi Total Cost of Ownership (TCO) atau total biaya kepemilikan jangka panjang. Modifikasi VinFast VF MPV 7 di GIIAS 2026 Pergeseran Pertimbangan Konsumen Pakar Otomotif Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan, kelompok kelas menengah di Indonesia kebanyakan mencari mobil dengan rentang harga Rp 100 juta hingga Rp 400 juta. Mereka memiliki proses pertimbangan yang makin detail sebelum membeli kendaraan baru. "Awalnya orang membeli mobil listrik karena emosional dan tertarik teknologi baru. Namun seiring berjalannya waktu, capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex) tidak bisa dipisahkan lagi dan masuk ke fase TCO. Konsumen mulai berhitung berapa cicilan per bulan dan penghematannya dibanding mobil konvensional," ujar Yannes di GIIAS, Senin (3/8/2026). VinFast VF 7 Ia menambahkan, kekhawatiran terbesar konsumen kelas menengah saat ini adalah penurunan nilai jual kembali (resale value) serta kecemasan terkait kemudahan pengisian daya (charging anxiety). Ekosistem Jadi Kunci Commercial and Marketing Leader Sukimin Thio menekankan bahwa kepemilikan mobil merupakan keputusan jangka menengah hingga panjang, yakni sekitar tiga sampai lima tahun. Menurutnya, kemudahan akses informasi dan media sosial membuat masyarakat tidak lagi sekadar melihat tampilan atau spesifikasi mobil di diler, melainkan mengevaluasi ekosistem purna jual secara menyeluruh. "Beli mobil itu kan bicara jangka menengah dan panjang. Kita harus meyakinkan diri bahwa tidak cuma sekadar mobilnya saja, tapi bagaimana aftersales dan charging-nya. Ekosistem ini tetap yang paling penting dalam produk EV," tutur Sukimin. Solusi 'Drive Worry Free' VinFast Menjawab berbagai kalkulasi dan kecemasan konsumen terkait TCO, Head of Training Department VinFast Indonesia, Rinaldi Ramdani, memaparkan konsep Drive Worry Free yang diusung pada ajang GIIAS 2026. Konsep ini dihadirkan untuk mendampingi konsumen sepanjang masa kepemilikan kendaraan. "Kami melihat bahwa animo kendaraan listrik ini cukup tinggi, tetapi kami perlu mendampingi konsumen selama perjalanan kepemilikan. Kami ingin mempermudah dan membuat konsumen tenang, sehingga tidak perlu memikirkan biaya apa pun selain mengendarai kendaraannya," kata Rinaldi. Guna menekan biaya operasional harian, VinFast menawarkan program pengisian daya gratis (free charging) di stasiun V-GREEN hingga Maret 2029, serta free battery subscription selama dua tahun. Selain itu, konsumen juga diberikan lifetime battery warranty dan jaminan penggantian baterai jika kapasitasnya (battery health) berada di bawah atau setara 70 persen. "Kami percaya bahwa kendaraan listrik ini seharusnya menjadi kendaraan yang mudah diakses dan tidak bikin ribet. Dengan adanya garansi baterai hingga perlindungan harga jual kembali, biaya yang dikeluarkan konsumen jadi sangat terprediksi (predictable)," kata Rinaldi. Untuk memperkuat kenyamanan pengguna, VinFast juga menyiagakan ekosistem pendukung berupa 3.200 titik stasiun pengisian V-GREEN, 40 diler nasional, dan 100 bengkel purna jual di Indonesia.