PT Chery Sales Indonesia melihat peluang besar untuk menarik konsumen segmen mobil murah ramah lingkungan (LCGC) yang ingin naik kelas tanpa lonjakan harga terlalu tinggi. Alih-alih masuk langsung ke segmen LCGC, pabrikan asal China ini memilih menawarkan produk dengan nilai lebih, baik dari sisi fitur, teknologi, maupun pilihan mesin, sebagai alternatif bagi konsumen yang mencari kendaraan lebih matang. Menurut Sulistyo Nugroho, Head of Dealer Network Development Chery Sales Indonesia, strategi tersebut sejalan dengan karakter pasar di luar kota besar yang masih membutuhkan mobil dengan harga terjangkau namun memiliki fungsi dan kenyamanan lebih. “Kami tidak bicara LCGC, tapi kami melihat ada kebutuhan mobil yang harganya masih masuk akal, dengan value yang lebih tinggi. Produk-produk kami saat ini berada di rentang yang tidak melonjak jauh dari segmen itu,” kata Sulistyo di Tangerang, Senin (5/1/2026). Sulistyo menjelaskan, Chery saat ini memiliki portofolio produk dengan berbagai pilihan teknologi, mulai dari mesin pembakaran internal (ICE), hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hingga battery electric vehicle (BEV). Kelengkapan ini dinilai menjadi modal penting untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen di berbagai daerah. Chery Tiggo 8 CSH di GIIAS 2025 Ia menilai, pasar di kota-kota tier dua dan tier tiga cenderung mencari kendaraan yang fungsional, tangguh, dan memiliki nilai guna tinggi, bukan sekadar teknologi listrik murni. Karena itu, Chery tidak hanya mengandalkan BEV, tetapi juga memperkuat produk non-BEV. “Kalau kita lihat data semester kedua 2025, justru kontribusi penjualan non-BEV lebih besar dibanding BEV. Ini menunjukkan produk ICE dan hybrid kami diterima dengan baik, terutama di daerah,” ujarnya. Salah satu model yang disebut berkontribusi besar terhadap perubahan komposisi penjualan tersebut adalah Tiggo Cross CSH. Model ini dinilai menawarkan keseimbangan antara harga, fitur, dan teknologi, sehingga mampu menarik konsumen yang sebelumnya berada di segmen lebih bawah. Menurut Sulistyo, konsumen LCGC yang ingin naik kelas tetap sangat memperhatikan harga, namun juga mulai mempertimbangkan aspek keselamatan, kenyamanan, dan performa. Di sinilah Chery melihat peluang untuk menawarkan kendaraan dengan pendekatan value for money. “Memang bukan LCGC, tapi keunggulan produk kami bisa menjadi alasan bagi konsumen untuk beralih. Dengan harga di kisaran Rp 200.000.000 hingga Rp 400.000.000, kami ingin memberikan value yang sepadan bahkan lebih,” kata Sulistyo. Ke depan, Chery berencana memperluas jangkauan produknya ke kota-kota menengah dan penyangga, tidak hanya terfokus di kota besar. Model-model SUV B, baik dua baris maupun tiga baris, dinilai cocok untuk kebutuhan keluarga di berbagai wilayah. “Target kami bukan hanya Jawa, tapi juga Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Dengan strategi ini, kami optimistis produk Chery bisa menjadi pilihan naik kelas bagi konsumen yang selama ini berada di segmen LCGC,” ujar Sulistyo. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang