Naik kelas dalam dunia balap motor kerap dipahami sebagai sekadar perpindahan ke motor dengan kapasitas mesin lebih besar. Kenyataannya tidak sesimpel itu. Bagi Astra Honda Racing Team (AHRT), proses tersebut jauh lebih kompleks: bukan hanya soal mesin, tetapi juga perubahan cara berpikir dan gaya balap seorang pebalap. Hal ini tecermin dari evaluasi tim pada seri pembuka Asia Road Racing Championship (ARRC) 2026 di Sirkuit Sepang, ketika sejumlah pebalap menjalani musim baru di kelas yang berbeda. Manager Motorsport AHM, Johanes Lucky, menilai tantangan terbesar saat naik kelas justru terletak pada proses adaptasi yang tidak selalu terlihat dari luar. “Ini saatnya untuk beradaptasi. Jadi ketika rider naik kelas, bukan hanya mengenali motornya, tapi juga bagaimana dia menyesuaikan diri dengan karakter balap yang berbeda,” ujar Lucky. Perbedaan tersebut mencakup banyak hal. M. Adenanta Putra raih podium di ARRC Sepang 2026. Mulai dari cara mengelola akselerasi, titik pengereman, hingga membaca ritme balapan yang berubah seiring meningkatnya level kompetisi. Motor yang lebih bertenaga menuntut kontrol yang lebih presisi, sementara lawan yang dihadapi juga memiliki pengalaman dan agresivitas yang berbeda. Situasi ini terlihat dari penampilan beberapa pebalap AHRT yang baru naik kelas. Salah satunya adalah Muhammad Badly Ayatullah, yang sempat menunjukkan progres signifikan dengan merangsek dari posisi belakang ke depan, sebelum akhirnya terjatuh di lap akhir. “Dia dari posisi 17 terus maju ke depan. Sebenarnya performanya cukup baik, tapi karena crash jadi tidak bisa melanjutkan. Kesempatan adaptasinya juga jadi berkurang,” kata Lucky. Menurut dia, insiden seperti itu menjadi bagian dari proses belajar yang tidak terhindarkan di fase awal. Di sisi lain, ada pula pebalap yang mampu beradaptasi lebih cepat. Di kelas Supersport 600, rider yang baru naik dinilai cukup cepat menyatu dengan motor dan ritme balapan. Sementara itu, di kelas Asia Superbike 1000, Adenanta Putra yang baru pertama kali menjajal motor 1.000 cc juga dinilai mampu mengejar ritme pebalap yang lebih berpengalaman. “Kita melihat ada yang cepat beradaptasi, cepat mengenali motor, dan bisa mengejar rider lain. Itu jadi hal yang positif,” ujar Lucky. Meski demikian, ia menegaskan bahwa adaptasi bukan proses instan. Dibutuhkan waktu, jam terbang, serta dukungan dari tim untuk membantu pebalap menemukan performa terbaiknya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang