Penjualan low cost green car (LCGC) di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Padahal, kendaraan tersebut dikenal murah dan irit bahan bakar. Lantas, perlukan produsen membuat segmen baru yang lebih terjangkau untuk menarik minat konsumen di dalam negeri?Kini, harga LCGC sudah hampir menyentuh Rp 200 juta. Padahal, di awal kemunculannya, kendaraan di segmen tersebut dibanderol tak sampai Rp 150 jutaan. Kenyataan itu membuat kita bertanya-tanya, masih layakkah LCGC disebut mobil murah? Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum (Sekum) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengatakan, pasar otomotif di Tanah Air tak butuh segmen mobil baru yang lebih murah dari LCGC. Sebab, jika itu terjadi, maka fitur keselamatannya akan dikurangi."Kita nggak lihat itu (bikin segmen mobil lebih rendah dari LCGC). Kalau itu terjadi, seolah-olah beli mobil harga murah, kemudian fiturnya dikurangi," ujar Kukuh Kumara kepada detikOto di kantor Gaikindo, Menteng, Jakarta Pusat."Kita poinnya affordable, artinya mobil lebih bagus tapi daya beli masyarakat meningkat. Bukan kemudian mobilnya diturunin supaya masyarakat bisa beli. Kemudian itu juga punya efek lain. Misal faktor keselamatan turun. Nggak boleh dong," tambahnya.Wawancara dengan Kukuh Kumara, Sekum Gaikindo. Foto: Doc. detikOtoKukuh secara tak langsung membenarkan, percuma membuat segmen mobil baru yang lebih murah dari LCGC. Sebab, masalah utamanya terletak pada daya beli konsumen. Semurah apapun harga kendaraan, jika ekonomi negara begini-gini saja, maka tetap sulit terjangkau.Diketahui, penjualan LCGC memang terus mengalami penyusutan di Indonesia. Sebagai gambaran, jika pada 2024 pangsa pasarnya masih 20,1 persen, maka pada 2025 turun menjadi 15,7 persen. Tahun lalu, penjualan lima model LCGC hanya tembus 130 ribuan unit.Tahun ini, penjualan mobil irit bahan bakar itu terpantau belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Karuan saja, penjualan LCGC pada tiga bulan pertama tahun ini tercatat hanya 28.831 unit. Angka tersebut mengalami kontraksi atau minus hingga 29,9 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.