Kehadiran deretan mobil baru berteknologi canggih dengan banderol kompetitif mewarnai dinamika pasar mobil bekas. Khususnya pada rentang harga Rp 200 jutaan, konsumen kini bisa membawa pulang mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) yang menawarkan berbagai kemudahan operasional. Kondisi tersebut membuat sebagian calon pembeli mobil bekas yang mulanya mengincar kendaraan konvensional mengalihkan pilihannya ke mobil listrik. Diler mobil bekas Willies Mobil di Kelapa Dua, Depok Kendati demikian, tren pemindahan preferensi ini rupanya tidak berdampak signifikan pada segmen mobil bekas Eropa, seperti BMW dan Mercedes-Benz. Segmen Pembeli Berbeda Reynando, Pemilik Diler Auto Cars di Pasar Mobil Kemayoran, menjelaskan bahwa konsumen mobil bekas pabrikan Jepang dan Eropa memiliki pola pikir serta kebutuhan yang bertolak belakang. "Karena sebetulnya pembeli mobil Jepang dan Eropa itu segmen yang berbeda, karakteristiknya berbeda," kata Reynando kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2026). Reynando menambahkan, konsumen yang terbiasa menggunakan mobil Jepang umumnya cenderung bertahan pada lini yang sama karena mengutamakan nilai ekonomis dan durabilitas. "Contoh orang mau beli mobil Jepang, biasanya akan selalu akhirnya Jepang lagi Jepang lagi. Karena pasti pemikirannya kebanyakan durability, sparepart murah," ujarnya. Sebaliknya, konsumen yang melirik mobil bekas Eropa didorong oleh kebutuhan akan citra, prestige, dan kenyamanan berkendara. Otospector menghadirkan program garansi mobil bekas hingga 3 tahun. Perlindungan ini diharapkan membuat konsumen lebih tenang saat membeli unit bekas. "Tapi kalau orang yang cari prestise, dilihat orang, ada wibawanya, pasti pilihnya ke Eropa," kata Reynando. Terpengaruh EV Menurut Reynando, karakter konsumen mobil Jepang justru yang paling rentan terpengaruh oleh gempuran mobil listrik murah. Efisiensi biaya perawatan dan pajak yang terjangkau menjadi nilai tambah yang sangat menggoda bagi segmen ini. "Bisa juga, makanya Jepang sangat pengaruh dengan harga EV. Yang kemakan marketnya adalah orang yang seperti itu dengan EV," ucap Reynando. Kondisi tersebut berbeda dengan konsumen mobil Eropa yang dinilai memiliki loyalitas segmen tersendiri sehingga tidak mudah goyah oleh hadirnya EV di rentang harga serupa. Ilustrasi mobil bekas Caroline.id Rentang Harga dan Merek Favorit Terkait unit yang paling diburu, Reynando mengungkapkan bahwa pasar mobil bekas Eropa terbilang paling manis (fast moving) di rentang harga Rp 300 juta hingga Rp 400 jutaan, khususnya untuk unit rakitan tahun 2018 sampai 2019. Selain itu, terdapat pula segmentasi pembeli yang cukup jelas berdasarkan pilihan merek antara Mercedes-Benz dan BMW. "Kalau di pasar bekas, biasanya Eropa Mercy itu orang cari nyaman. Kalau BMW rata-rata anak muda," kata Reynando. Fenomena ini membuktikan bahwa faktor wibawa, gengsi, dan kenyamanan khas pabrikan benua biru tetap memiliki nilai tawar tersendiri yang sulit digantikan oleh mobil listrik harian. Selama nilai-nilai tersebut menjadi prioritas utama konsumen, pasar mobil bekas Eropa diprediksi akan terus mempertahankan stabilitasnya di tengah pergeseran tren otomotif nasional.