Proses membuat legalitas motor konversi dari bensin ke listrik ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Sekarang mungkin sudah ada patokannya, tetapi buat para pionir atau yang pertama, prosesnya sangat panjang. Bambang Setiawan Yudistira, atau akrab disapa Ibeng, merupakan salah satu orang pertama yang membawa motor konversinya, Honda Vario 110 untuk mendapatkan sertifikasi resmi. Paket konversi motor listrik buatan Nagara. Jadi yang termurah setelah disubsidi, harga Rp 4 juta Pengalamannya tidak bisa dibilang mulus karena saat itu standar baku belum benar-benar ada. "Prosesnya itu kita kurang teliti kali ya, enam bulan. Karena bolak-balik. Bolak-baliknya ya sama-sama enggak punya standar. Di balai uji enggak punya standar, bengkelnya pun enggak punya standar," kata Ibeng kepada Kompas.com, Kamis (9/4/2026). Salah satu kejadian unik sekaligus membingungkan terjadi saat pengujian komponen pendukung seperti klakson. Ibeng mencoba mengingat-ingat kembali momen di mana setiap detail bunyi menjadi sangat sensitif di mata penguji, namun tanpa angka parameter yang jelas. Ibeng menceritakan bagaimana ia sempat beradu argumen mengenai suara klakson yang dianggap kurang memenuhi syarat, padahal patokannya pun tidak ada. "Saya ingat-ingat, mereka bilang, 'ini (klaksonnya) kayaknya kurang kencang nih'. Pertanyaan kita, butuh berapa desibel? Harus berapa kencangnya? Mereka (penguji) bilang, 'ya coba deh diubah dulu, dikencengin dulu aja'," ujar Ibeng. Ketidakjelasan mengenai berapa desibel standar suara klakson yang diinginkan penguji menjadi cerminan bahwa saat itu regulator pun masih dalam tahap meraba-raba aturan di lapangan. Bukan hanya masalah klakson, aspek visual dan peringatan keamanan pun menjadi kendala yang menguras waktu. Ibeng harus memastikan setiap stiker peringatan terpasang. "Lucunya semua sampai ke stiker-stiker juga ternyata menjadi keharusan. Jadi mereka akan nanya kan, tutup baterainya bagaimana? Ada standarnya. Dan di atas tutupnya harus ada tulisan listrik, terus di bagian listriknya tulisan bahaya, tegangan tinggi, gitu-gitu harus ada," tambahnya. Melihat kerumitan yang ia alami sebagai seorang antusias, Ibeng meragukan masyarakat awam sanggup melewati proses yang sama jika infrastruktur dan standarisasinya belum benar-benar matang. Pengalaman Ibeng menjadi bukti nyata bahwa di masa awal, transisi menuju kendaraan listrik bukan sekadar masalah mengganti mesin, melainkan perjuangan menyelaraskan buatan bengkel dan gagapnya birokrasi yang ada. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang