Ilustrasi mobil balap Arah bisnis pelumas di era kendaraan listrik mulai mengalami pergeseran seiring perubahan teknologi otomotif yang semakin cepat. Meski kendaraan listrik terus bertumbuh, pasar pelumas masih memiliki peran strategis dalam ekosistem kendaraan modern. Perkembangan kendaraan listrik membawa tantangan sekaligus peluang baru bagi industri pelumas. Di satu sisi, kebutuhan pelumas mesin konvensional berpotensi berubah, namun di sisi lain muncul kebutuhan baru untuk pelumas transmisi, pendingin, dan komponen pendukung kendaraan elektrifikasi.Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam forum distributor yang digelar PT Motul Indonesia Energy pada awal 2026. Forum ini dimanfaatkan untuk membaca arah pasar dan menyesuaikan strategi bisnis di tengah transisi teknologi kendaraan. Motul Indonesia menilai kendaraan bermesin pembakaran internal masih mendominasi pasar nasional. Namun tren elektrifikasi membuat pelaku industri perlu menyiapkan portofolio produk dan pendekatan bisnis yang lebih adaptif.Managing Director PT Motul Indonesia Energy, Welmart Purba, menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi perubahan. “Selain evaluasi kinerja, konferensi ini juga membahas secara komprehensif rencana, peluang, dan strategi bisnis tahun 2026,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif dari keterangan resmi, Jumat 23 Januari 2026. Diskusi dalam forum tersebut tidak hanya menyoroti capaian penjualan, tetapi juga pemahaman teknologi kendaraan masa kini. Distributor diajak memahami karakter kendaraan listrik, hybrid, serta mesin modern yang memiliki kebutuhan teknis berbeda. Seiring berkembangnya kendaraan listrik, edukasi pasar dinilai menjadi faktor penting. Konsumen perlu memahami bahwa pelumas tetap memiliki fungsi vital pada kendaraan tertentu, sekaligus mengenal produk pendukung yang relevan untuk teknologi elektrifikasi. Kolaborasi antara produsen dan distributor juga menjadi fokus pembahasan. Sinergi dinilai penting agar distribusi produk dan informasi dapat berjalan seiring dengan perubahan pola konsumsi kendaraan.Di tengah transisi ini, industri pelumas dituntut lebih fleksibel dalam membaca arah pasar. Inovasi produk, penguatan jaringan, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penentu daya saing.