Tren peningkatan populasi mobil listrik yang terus bertumbuh pesat di Indonesia membawa tantangan baru dalam hal modifikasi komponen pendukung kendaraan. Pemilik kendaraan listrik kini dituntut untuk jauh lebih cermat dan selektif saat hendak mengganti komponen pelek maupun ban standar bawaan pabrik. Pasalnya, karakteristik teknis serta rancang bangun kendaraan berbasis baterai ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan dengan mobil bermesin pembakaran internal. Perbedaan mendasar pada struktur bobot serta penyaluran tenaga instan membuat pemilihan komponen roda tidak bisa disamakan dengan mobil konvensional. Bobot Baterai dan Batas Indeks Beban Eric Tanzil dari Permaisuri Ban menjelaskan bahwa penempatan paket baterai berkapasitas besar di area dek bawah menjadi penyebab utama melonjaknya bobot total kendaraan listrik. "Mobil EV itu baterainya di lantai dan ukurannya besar, jadi bawaannya lebih berat dibanding mobil biasa," ujar Eric kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2026). Konstruksi baterai yang sangat berat tersebut secara otomatis memberikan beban tekanan vertikal yang jauh lebih tinggi pada seluruh rangkaian roda serta komponen suspensi. Oleh sebab itu, Eric menekankan pentingnya bagi para pemilik kendaraan untuk selalu memperhatikan tingkat daya tumpu beban atau yang dikenal sebagai load index saat memilih ban. "Ban mobil listrik itu punya namanya load index, yaitu batas kemampuan sanggup menopang bobot dari mobil ini," kata Eric. Sentra pelek mobil di Cideng, Jakarta Pusat Penggunaan ban dengan angka load index yang berada di bawah standar pabrikan berisiko tinggi memicu kerusakan fatal pada dinding ban hingga potensi terjadinya pecah ban saat melaju. Selain itu, penyaluran torsi instan dari motor listrik juga memberikan gesekan yang jauh lebih keras pada telapak ban jika dibandingkan dengan mobil bertransmisi konvensional. Bahaya Menggunakan Pelek Replika Tidak hanya masalah spesifikasi ban, pihak Permaisuri Ban juga menggarisbawahi bahwa penggunaan pelek original berstandar manufaktur menjadi harga mati untuk mobil listrik. Eric menjelaskan bahwa pelek original diproduksi melalui serangkaian proses riset teknis dan pengujian ketat demi memastikan ketahanan materialnya. "Pelek original buatan pabrikan itu dibuat berdasarkan riset dan pengembangan yang panjang, materialnya disesuaikan dan diperhitungkan," tutur Eric. Ia menyayangkan fenomena di lapangan di mana masih banyak pemilik kendaraan listrik yang tergiur menggunakan pelek replika demi mengejar tampilan estetika dengan harga murah. "Kalau replika atau tiruan itu hanya dibikin semirip mungkin tampilannya saja," tegas Eric. Padahal, penggunaan pelek replika pada kendaraan yang memiliki bobot ekstra berat seperti mobil listrik menyimpan risiko bahaya yang sangat besar di jalan raya. Struktur material pelek replika yang cenderung lebih getas berisiko tinggi mengalami bengkok, retak, hingga pecah saat kendaraan menghantam lubang pada kecepatan sedang maupun tinggi. Kondisi ini tentu jauh lebih berbahaya apabila kendaraan harus melakukan gerakan manuver darurat, pengereman mendadak, atau melintasi permukaan jalan yang tidak rata. Potensi kegagalan struktur pelek saat mobil dipacu dalam kecepatan tinggi dapat menyebabkan hilangnya kendali kendaraan secara mendadak yang berujung pada kecelakaan fatal. Langkah modifikasi yang keliru pada bagian kaki-kaki ini juga berpotensi membatalkan garansi resmi yang diberikan oleh pihak agen pemegang merek kendaraan listrik. Oleh karena itu, para pemilik kendaraan listrik diimbau untuk tidak mengorbankan faktor keselamatan diri dan penumpang hanya demi mengejar penampilan gaya semata. Ketepatan angka load index pada ban serta ketahanan pelek original berstandar riset resmi harus selalu menjadi prioritas utama demi menjamin kenyamanan dan keselamatan berkendara.