Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pemilik mobil untuk menjaga kinerja mesin. Setiap kendaraan memiliki spesifikasi BBM yang disesuaikan dengan karakteristik mesin, termasuk kebutuhan angka oktan. Penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat memengaruhi proses pembakaran dan dalam kondisi tertentu berpotensi membuat sejumlah komponen mesin mengalami masalah. Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Gaai dengan spesifikasi mesin dapat memicu kerusakan. "Misal, mesin kompresi tinggi dikasih bensin oktan rendah akan membuat mesin knocking," katanya kepada Kompas.com, belum lama ini. Jayan menjelaskan, mesin mobil modern umumnya memiliki rasio kompresi yang lebih tinggi sehingga membutuhkan BBM dengan angka oktan yang sesuai agar proses pembakaran berlangsung optimal. Ilustrasi BBM. Ilustrasi SPBU. Harga Pertamax Green 95 naik. Selain jenis BBM yang tidak sesuai spesifikasi, kualitas bahan bakar juga dapat memengaruhi kondisi mesin. Menurut Jayan, bensin yang tercampur kotoran, debu, atau air berpotensi mengganggu kinerja mesin. Ia juga mengingatkan penggunaan zat aditif yang tidak sesuai fungsi maupun standar dapat menimbulkan masalah. Padahal, aditif seharusnya digunakan untuk meningkatkan angka oktan atau cetane serta membantu menjaga kebersihan saluran injektor. "Bensin stok lama yang sudah tidak stabil juga menyebabkan mesin kendaraan rusak," ucap Jayan. Menurutnya, risiko tersebut dapat terjadi pada semua jenis BBM dari berbagai produsen maupun SPBU apabila kualitas bahan bakarnya tidak terjaga. "Kerusakan tergantung penyebabnya. Kalau bensin kotor, paling membuat macet injektor dan mesin tidak bisa nyala. Kalau nilai oktan lebih rendah dari seharusnya, mesin bisa berisik dan lama-lama rusak berat," ucapnya. Antrean kendaraan yang sedang isi BBM Pertalite di SPBU Pajajaran 34.16102 Dampak penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi juga dapat terlihat pada komponen yang berkaitan dengan proses pembakaran. Pemilik bengkel mobil Iwan Motor, Iwan, mengatakan penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat membuat sisa hasil pembakaran menjadi lebih pekat. Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan lebih banyak residu yang kemudian menempel pada sejumlah komponen mesin, salah satunya busi. "Seperti busi, karena sisa pembakaran yang pekat, penghasil bunga api ini bisa lebih cepat rusak, sehingga durasi penggantian bisa lebih sering, salah satu penyebabnya pemakaian BBM tak sesuai," ucap Iwan kepada Kompas.com. Selain busi, sensor oksigen juga dapat terdampak akibat penumpukan residu dari proses pembakaran. Sensor oksigen berfungsi membaca kandungan gas buang sebelum mengirimkan informasi tersebut kepada electronic control unit (ECU). "Kotoran akan menumpuk pada area sensor, dan membuatnya tak mampu mengirimkan angka dengan akurat kepada electric control unit (ECU), akibatnya mesin bisa pincang," ucap Iwan. Residu hasil pembakaran juga dapat mempercepat kerusakan catalytic converter. Komponen tersebut memiliki lubang-lubang kecil yang dapat tersumbat apabila kotoran menumpuk. Jika kondisi ini dibiarkan, aliran gas buang dapat terganggu dan performa mesin ikut menurun. "Residu akan membuat luang-lubang kecil pada catalytic converter kotor, dan akhirnya pampat, jika terus dibiarkan performa mesin akan menjadi loyo," ucap Iwan. Karena itu, pemilik mobil sebaiknya menggunakan BBM sesuai dengan spesifikasi mesin dan nilai oktan yang direkomendasikan. Penggunaan BBM yang sesuai dapat membantu menjaga proses pembakaran tetap optimal sekaligus mengurangi risiko penumpukan residu yang berpotensi mempercepat kerusakan komponen.