Memilih rute perjalanan menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan pengemudi untuk menghemat bahan bakar. Sebab, jarak tempuh bukan satu-satunya faktor yang menentukan efisiensi konsumsi BBM kendaraan. Rute yang lebih pendek belum tentu lebih hemat apabila kondisi lalu lintasnya padat dan kendaraan harus sering berhenti atau melakukan akselerasi berulang kali. Sebaliknya, rute yang lebih panjang tetapi memiliki arus lalu lintas lancar bisa memberikan peluang bagi pengemudi untuk mempertahankan kecepatan konstan. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, pengemudi perlu merencanakan perjalanan sebelum mulai berkendara dan ini termasuk ke dalam metode eco driving. Persiapan tersebut mencakup waktu keberangkatan hingga pemilihan rute. Kendaraan pribadi (kiri) menggunakan jalur rekayasa lalu lintas lawan arah atau contraflow untuk menghindari kemacetan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 47 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026). Pada H-2 Lebaran lalu lintas Tol Jakarta-Cikampek masih dipadati kendaraan pemudik menuju Gerbang Tol Cikampek Utama. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa. "Selain mempersiapkan kendaraan, fase pre-driving juga mencakup persiapan perjalanan. Kita harus memiliki trip management atau journey management, yang meliputi waktu keberangkatan dan pemilihan rute," ujar Jusri, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Rute Lancar Membantu Hemat BBM Menurut Jusri, pengemudi sebaiknya mempertimbangkan kondisi lalu lintas ketika memilih rute perjalanan. Apabila memungkinkan, pilih jalur yang relatif lancar meskipun jarak tempuhnya lebih panjang. Kondisi lalu lintas yang lancar memungkinkan kendaraan melaju dengan kecepatan lebih stabil. Dengan begitu, pengemudi tidak perlu terlalu sering melakukan akselerasi dan pengereman. Sebaliknya, perjalanan di tengah kemacetan membuat kendaraan harus menghadapi kondisi stop and go. Pengemudi berulang kali menginjak pedal gas untuk bergerak, kemudian mengerem ketika kendaraan di depan berhenti. Kondisi lalu lintas di Jalan HR Rasuna Said dari atas JPO Kuningan pada pukul 18.00 WIB, Jumat (8/5/2026). Pola berkendara tersebut membuat konsumsi bahan bakar berpotensi lebih tinggi dibandingkan dengan perjalanan yang memungkinkan kendaraan bergerak secara konstan. "Dibandingkan dengan rute yang lebih pendek, tetapi waktu tempuhnya lebih lama karena kemacetan dan kondisi stop and go, rute yang lebih panjang dengan kecepatan konstan justru berpotensi membuat konsumsi bahan bakar lebih efisien," kata Jusri. Meski demikian, pemilihan rute tetap harus mempertimbangkan kondisi jalan, batas kecepatan, dan keselamatan. Rute yang lebih panjang tidak otomatis lebih hemat apabila kondisi jalannya buruk atau memerlukan banyak perubahan kecepatan. Test drive BAIC T1 di rute Tangerang-Bandung Perhatikan Waktu Keberangkatan Selain menentukan rute, pengemudi juga disarankan memperhatikan waktu keberangkatan. Perjalanan yang dilakukan pada jam sibuk berpotensi membuat kendaraan lebih sering terjebak kemacetan. Oleh karena itu, apabila waktu perjalanan fleksibel, pengemudi dapat mempertimbangkan keberangkatan di luar jam padat untuk menghindari kepadatan lalu lintas. Perencanaan waktu keberangkatan juga membantu pengemudi memperkirakan durasi perjalanan sehingga tidak perlu terburu-buru ketika berada di jalan. Lalu lintas Lancar di Jalan Raya Otista, Bidara Cina Jakarta Timur. Sebelumnya, jalan ini tergenang banjir sekitar 70 sentimeter Jusri menjelaskan, pengaturan waktu dan pemilihan rute merupakan bagian dari manajemen perjalanan yang dapat mendukung penerapan eco-driving. "Jadi, kita harus merencanakan rute dan waktu keberangkatan dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas," ujarnya. Hindari Kebiasaan Berkendara Stop and Go Kondisi stop and go menjadi salah satu tantangan dalam menjaga efisiensi bahan bakar, terutama ketika berkendara di kawasan perkotaan. Kemacetan Jakarta, sebab diberlakukannya pembatasan lalu lintas dengan skema Ganjil Genap (Gage) Ketika kendaraan berhenti, kemudian kembali bergerak, mesin membutuhkan energi untuk meningkatkan kecepatan kendaraan. Jika pola tersebut terjadi berulang kali, konsumsi bahan bakar dapat meningkat. Pengemudi dapat mengantisipasi situasi tersebut dengan memperhatikan kondisi lalu lintas di depan dan mengatur kecepatan secara bertahap. Selain itu, menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan juga dapat memberikan waktu yang lebih cukup untuk merespons perubahan arus lalu lintas. Dengan perencanaan perjalanan yang tepat, pengemudi memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kecepatan kendaraan tetap stabil. Kebiasaan tersebut tidak hanya membantu mengoptimalkan konsumsi BBM, tetapi juga membuat perjalanan lebih nyaman.