Sebagai pendatang baru di segmen medium MPV pintu geser dengan teknologi ramah lingkungan, Wuling Darion PHEV punya modal yang cukup kuat. Tak hanya dari tampilan mewah serta kenyamanan kabin khas MPV premium, tetapi juga dari teknologi elektrifikasi yang disematkan. Bicara soal teknis, dapur pacu Darion PHEV menggunakan mesin bensin berkapasitas murni 1.490 cc naturally aspirated berteknologi Atkinson Cycle bertenaga 105 Tk dan torsi 130 Nm. Mesin tersebut dikolaborasikan dengan motor listrik yang memiliki tenaga 195 Tk dan torsi 230 Nm, kemudian dikoneksikan melalui Dedicated Hybrid Transmission (DHT). Wuling Darion PHEV DHT merupakan sistem transmisi pintar yang diklaim memastikan perpindahan tenaga berjalan halus dan efisien. Ling Power Bicara soal DHT tak lepas dari teknologi Ling Power yang dikembangkan dari inovasi elektrifikasi dan dikenal sebagai plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Keberadaan teknologi tersebut diklaim menawarkan efisiensi tinggi dan berdampak positif pada biaya energi. Wuling Darion PHEV Garis besarnya, Ling Power berperan cerdas menentukan kapan menggunakan motor listrik, mesin bensin, atau kombinasi keduanya agar konsumsi energi tetap efisien. Teknologi tersebut juga membuat Darion PHEV dengan desain boxy diklaim mampu menjelajah hingga lebih dari 1.000 km melalui kombinasi mesin bensin dan listriknya. Electrification Journey Pembuktiannya saya alami sendiri ketika menuntaskan Electrification Journey 2026 dengan tantangan satu kali isi bensin untuk perjalanan dari Jakarta–Yogyakarta lalu kembali ke Jakarta. Sesuai program, sebelum melakukan perjalanan pengisian bensin dilakukan terlebih dahulu. Sekadar informasi, tangki bensin Darion PHEV memiliki kapasitas cukup besar, yakni 52 liter. Usai terisi penuh, penutup tangki BBM langsung disegel dan perjalanan dimulai. Pengujian kali ini tak sekadar membuktikan efisiensi, tetapi juga kesan berkendara, termasuk kenyamanan dalam perjalanan jarak jauh. Wuling Darion PHEV Harus diakui, meski memiliki desain boxy, tenaga pada putaran rendah masih cukup responsif. Wuling juga mengutamakan penggunaan motor listrik saat awal mobil dihidupkan. Dengan demikian, selain konsumsi bahan bakar terjaga, torsi saat pedal gas diinjak terasa lebih padat. EV Max Untuk membuktikan kemampuan baterai 20,5 kWh Lithium Iron Phosphate (LFP) yang diklaim mampu membawa Darion PHEV melaju dalam mode listrik murni hingga 125 km (CLTC), saya menerapkan mode EV MAx penuh di awal perjalanan, sementara posisi driving mode berada pada posisi Eco. Hasilnya tak mengecewakan. Perjalanan dari Palmerah, Jakarta Barat sampai masuk ruas Tol Cipali, lebih dari 100 km, dapat dilalui tanpa mengandalkan mesin bensin. Wuling Darion PHEV Ini menjadi hal menarik karena kemampuan baterai yang tergolong jauh membuat Darion PHEV memberikan sensasi berkendara layaknya mobil listrik murni tanpa khawatir soal pengisian daya. Namun perlu diingat, hasil tersebut bisa berbeda tergantung berbagai faktor seperti kondisi jalan, gaya berkendara, bobot muatan, dan lainnya. Sebagai catatan, mode berkendara yang saya terapkan terkesan santai dengan kecepatan konstan 80–100 kpj. Kondisi mobil berisi tiga penumpang serta barang bawaan yang bila ditotal bobot sekitar 198 kg. Wuling Darion PHEV Meski ditantang tak mengisi BBM, pengisian daya masih diperbolehkan. Karena itu setelah menempuh perjalanan awal, di rest area 102A Cipali baterai kembali diisi menggunakan SPKLU fast charging. Dengan jarak tempuh 113 km hingga tiba di pemberhentian awal, sisa baterai Darion PHEV menunjukkan masih mampu berjalan sejauh 10 km, sementara indikator bensin tetap utuh seperti awal perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang