Pengemudi harus membiasakan diri dengan karakter mobil hybrid. Pasalnya, ada beberapa perbedaan mendasar dengan mobil konvensional. Salah satunya, pengemudi tak perlu menunggu mesin hidup untuk bisa membuat mobil melaju. Perbedaan ini harus diperhatikan agar kesalahan pengoperasian dapat dihindari. Riski Permana, Marketing Planning & Customer Relation Dept Head Nasmoco Group mengatakan pengeperasian mobil hybrid penuh tak lagi seperti dengan mobil konvensional. “Bila diamati, ketika tombol power ditekan hanya akan mengubah statusnya menjadi ‘ready’ ada tanda di layar informasi (MID) tak ada suara motor starter, tak ada suara mesin bakar,” ucap Riski kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Pada kondisi tersebut, ketika pengemudi menggeser tuas transmisi ke drive (D) atau reverse (R), mobil sudah bisa langsung bergerak. Berbeda dengan mobil konvensional, di mana mesin harus running. Tanpa kesadaran penuh dari pengemudi, kondisi tersebut dapat memicu kekeliruan dalam pengoperasian yang bisa saja menyebabkan kecelakaan. Test drive BAIC BJ30 Hybrid “Pengemudi mobil hybrid sedikit perlu penyesuaian, terutama yang sebelumnya biasa pakai mobil konvensional, tapi ini tak berlaku di mobil dengan sistem mild hybrid, kalau Toyota Veloz dan Innova Zenix hybrid sudah full hybrid,” ucap Riski. Mesin bakar pada mobil hybrid akan tetap mati selama pengemudi memacu mobil dengan perlahan dengan kecepatan tak lebih dari 20 Km per jam dan kondisi baterai cukup. “Nanti mesin bakar akan nyala otomatis, ketika baterai sudah mulai habis atau ketika pengemudi melakukan akselerasi,” ucap Riski. Jadi, sebelum mencoba mengemudikan mobil hybrid, pengemudi perlu paham dulu dengan karakternya untuk menghindari kesalahan pengoperasian. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang