- Memilih SUV ringkas dengan teknologi hibrida (hybrid) kini menjadi magnet baru bagi kaum komuter yang mencari efisiensi tanpa mengorbankan performa. Salah satu penantang di segmen ini adalah Chery Tiggo Cross CSH (Chery Super Hybrid). Bagi konsumen yang terbiasa dengan mobil pabrikan Jepang, beralih ke merek China tentu membutuhkan adaptasi tersendiri. Hal inilah yang dirasakan oleh Putri, pekerja urban yang meminang Tiggo Cross CSH pada ajang GIIAS Agustus 2025 lalu seharga Rp 319.800.000. "Semenjak awal saya menggunakan mobil ini, saya belum begitu paham bagaimana cara kerjanya, karena ini mobil China pertama yang saya beli. Sebelumnya saya pengguna mobil Jepang (Xpander) dan Malaysia (Proton Suprima S Turbo)," ujar Putri kepada Kompas.com, belum lama ini. Review Chery Tiggo Cross CSH: Plus Minus Dipakai Harian 23.000 Km  Setelah menempuh jarak sejauh 23.344 km dengan pola pemakaian harian yang cukup padat dari Senin hingga Sabtu dengan jarak sekitar 100 km per hari, Putri membagikan ulasan jujur mengenai kelebihan dan kekurangan SUV hibrida ini. Efisiensi Fantastis dan Kenyamanan Kabin Catatan paling impresif dari Tiggo Cross CSH terletak pada efisiensi bahan bakarnya. Menariknya, Putri rutin memanfaatkan fitur Compulsory Parking Power Generation sebelum berangkat kerja untuk mengisi daya baterai hingga 75 persen saat mobil dalam kondisi parkir atau stasioner. "Menurut saya ini sudah paling irit karena dibantu oleh baterai. Pemakaian bisa mencapai 30-35 km/liter saat dikendarai. Bahkan kalau kondisi macet bisa mencapai 40 km/liter karena lebih sering pakai baterai. Untuk hitungan full-to-full bisa mencapai 23-24 km/liter," kata Putri. Putri selalu mengisi mobilnya dengan BBM RON 92 (BP92). Dengan kapasitas tangki 51 liter yang diklaim bisa menempuh 867 km, ia merasakan penurunan pengeluaran yang sangat signifikan untuk mobilitas harian. "Jadi untuk sebulan saya mungkin bisa menghabiskan sekitar Rp 1.400.000 sampai Rp 1.600.000. Perbandingan yang sangat jauh dibandingkan saat saya menggunakan mobil Proton yang bisa habis sampai Rp 3.000.000 hingga Rp 4.000.000 per bulan menggunakan Pertalite," tuturnya. Selain irit, sektor performa mesin 1.498 cc miliknya terasa sangat halus. Tersedia pula Mode Turbo yang dinilai Putri sangat cocok untuk melibas jalan menanjak. Dari segi berkendara, bantingan suspensinya terasa nyaman, kabin senyap, dan kualitas material interiornya elegan. Review Chery Tiggo Cross CSH: Plus Minus Dipakai Harian 23.000 Km Fitur penunjangnya pun tergolong melimpah, mulai dari Carlinko untuk memantau kondisi mobil via ponsel, Voice Assistant untuk membuka sunroof, kamera 360 derajat, sensor tekanan ban (TPMS), hingga Autohold yang sangat membantu menahan rem di posisi tanjakan saat macet. Karakter Fitur dan Penyesuaian Iklim Lokal Meskipun merasa aman dan puas, Putri tidak menampik adanya beberapa kekuranganJ yang dirasakannya selama 23.000 km ini. Salah satu perhatian utamanya justru tertuju pada fitur keselamatan aktif EBS (Emergency Braking System). "Tapi untuk sekarang, saya tidak menggunakan EBS karena sudah banyak kasus tiba-tiba rem mendadak dan ditabrak dari belakang. Jadi menurut saya fitur ini tidak cocok untuk di Indonesia yang jalanannya selalu macet dan gaya berkendara orang-orang yang ugal-ugalan," tegas Putri. Review Chery Tiggo Cross CSH: Plus Minus Dipakai Harian 23.000 Km Selain sistem EBS, ada beberapa catatan minus lainnya yang dirasakan langsung oleh Putri selama berkendara di iklim tropis Indonesia. Salah satunya adalah kaca film bawaan asli mobil yang dirasa kurang maksimal meredam panas matahari siang, Urusan pendingin kabin sebetulnya tidak ada masalah karena AC bawaan sudah dingin dan dibekali fitur dual zone. Sayangnya, sistem sirkulasi udara otomatisnya dirasa kurang pas untuk kondisi jalanan lokal. Menurut Putri, mobil ini otomatis membuka ventilasi kabin secara berkala. Jadi walaupun pengaturan ventilasi sudah ditutup, bau tidak sedap dari luar tetap saja bisa masuk ke dalam kabin. Review Chery Tiggo Cross CSH: Plus Minus Dipakai Harian 23.000 Km Catatan minor berikutnya datang dari sektor utilitas, tepatnya suara klakson bawaan pabrik yang dinilai kurang tegas untuk karakter jalanan padat. Putri merasakan klakson aslinya kurang garang, sehingga ia memilih menggantinya langsung di diler resmi agar tidak menghanguskan garansi. Terakhir, dari sisi non-teknis, proses birokrasi administrasi pasca-pembelian di masa awal peluncuran juga menuntut kesabaran ekstra, di mana STNK dan plat nomor memakan waktu hingga 3 bulan, serta BPKB yang baru terbit dalam waktu 6 bulan. Kesimpulan Secara keseluruhan, Chery Tiggo Cross CSH menawarkan fundamental yang sangat solid sebagai mobil operasional harian yang sangat irit dan nyaman. Kekurangan yang ada mayoritas bersifat kenyamanan minor yang masih bisa dieliminasi sendiri oleh pemiliknya, menjadikannya pilihan yang rasional di segmen SUV hibrida.