Naluri alamiah seorang pengemudi saat melihat bahaya atau obyek mendadak di depan mata adalah langsung menginjak pedal rem sekuat tenaga. Namun, di jalan tol yang padat dan berkecepatan tinggi, tindakan asal injak rem mendadak justru bisa menjadi awal bencana kecelakaan karambol. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, menegaskan bahwa dalam konsep defensive driving, bahaya yang mengintai pengemudi tidak hanya berasal dari depan, melainkan juga dari belakang. Kecelakaan beruntun di terowongan Pasar Rebo Tol JORR pada Jumat (24/7/2026) pagi. Cek Spion Tengah Menurut Jusri, ketika situasi darurat terjadi di depan, hal pertama yang harus dilakukan pengemudi bukanlah langsung menghentikan laju mobil secara drastis, melainkan memeriksa spion tengah terlebih dahulu. Mengecek spion bertujuan memastikan apakah kendaraan di belakang memiliki jarak yang aman dan siap untuk melakukan pengereman. "Kalau di belakang ada truk gitu, hancur, di-sandwich (terhimpit) kan? Kalau aman, baru ngerem. Kalau tidak aman, bukan ngerem, lari dulu ke kiri atau ke kanan," kata Jusri. Ilustrasi berhenti di bahu jalan tol. Gunakan Jalur Penyelamat (Escape Route) Lantas, apa yang harus dilakukan jika kondisi di belakang tidak memungkinkan untuk melakukan pengereman mendadak? Jawabannya adalah mencari escape route atau ruang kosong di sisi kiri maupun kanan kendaraan. Jusri menjelaskan, pengemudi defensif harus selalu membiasakan diri memindai area sekitar secara proaktif sejak sebelum kondisi darurat timbul. "Langkah-langkah mitigasinya agar tidak terjadi pengereman mendadak adalah memandang sejauh mata memandang untuk mengantisipasi bahaya. Kemudian melihat ke kiri atau ke kanan space-space kosong in case terjadi sesuatu. Sehingga dia bisa melaju ke arah kiri atau kanan ketimbang melakukan pengereman mendadak," kata Jusri.