Insiden keributan di jalan raya (road rage) kembali terjadi di kawasan Bekasi Selatan. Angkutan kota (angkot) trayek K-02 nekat menghadang dan merusak Suzuki XL7 setelah gagal menyerobot antrean di tengah kemacetan akibat adanya proyek perbaikan jalan. Selain menyebabkan kerusakan fisik pada pintu dan talang air mobil korban, kejadian tersebut juga menyisakan trauma psikologis bagi istri dan anak pengemudi yang berada di dalam. Melihat fenomena arogansi jalanan yang terus berulang, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menekankan pentingnya pemahaman mengemudi defensif (defensive driving). Menurutnya, ada dua pilar utama yang harus dikuasai setiap pengendara agar terhindar dari jebakan ego di ruang publik. Ilustrasi berkendara dalam keadaan emosi Selalu Antisipasi Kondisi Terburuk Jusri menjelaskan bahwa salah satu elemen mendasar dalam defensive driving adalah kemampuan antisipasi yang kuat dengan prinsip expect the unexpected. Ketika berada di jalan raya, seorang pengemudi tidak boleh memiliki asumsi bahwa pengendara lain di sekitarnya tertib, paham aturan, atau berada dalam kondisi psikologis yang ideal. "Jangan pernah berpikir orang lain itu ideal. Kita harus selalu mengantisipasi kemungkinan terburuk (expect the worst), baik saat jalanan sedang sepi maupun ramai," ujar Jusri kepada Kompas.com, Senin (13/7/2026). Dalam kasus di Bekasi, penyempitan lajur akibat pekerjaan jalan merupakan titik krusial yang rawan memicu konflik karena menuntut kesabaran ekstra saat mengantre. Ketika ada pengemudi lain yang melakukan penyimpangan aturan dengan memotong jalur dari kiri, respon pertama kita tidak boleh didasari oleh emosi atau keinginan untuk bertahan. Empati di Jalan Raya: Menghindari Konflik Elemen kedua yang menjadi penentu adalah empati. Jusri mengingatkan bahwa ketika melihat ada pelanggaran di depan mata, hal terpenting yang harus tertanam di dalam pikiran adalah bagaimana cara menghindari konflik, bukan justru mencari pembenaran atas nama aturan. "Jangan pernah di dalam otak kita berpikir, 'Oh saya benar, saya ikut aturan, ini jalur saya, jangan kasih jalan.' Ketika kita berpikir seperti itu dan memilih bertahan atau memepet pelaku, itu akan langsung memicu pola pikir lawan untuk menyerang balik," kata Jusri. Jusri menegaskan bahwa memberikan efek jera atau memberi pelajaran kepada pengemudi yang salah bukanlah wewenang sesama pengguna jalan. Menolak memberi jalan atau merespons tindakan provokatif dengan klakson hanya akan memicu eskalasi konflik yang berujung pada kekerasan fisik atau perusakan. Melalui empati, pengemudi diajak untuk tetap berkepala dingin (cooling down). Dengan mengalah dan memberi ruang bagi pengemudi yang agresif, fokus utama kita untuk berkendara dengan aman dan selamat sampai di rumah bersama keluarga tercinta dapat tetap terjaga.