Aksi pengemudi yang meluapkan emosi hingga merusak kendaraan pengguna jalan lain kembali menjadi sorotan. Peristiwa seperti ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga dapat mengancam keselamatan apabila korban terpancing untuk melawan. Salah satu kejadian dialami pemilik akun @hendysantono di kawasan Sunter. Menurut pengakuannya, insiden bermula ketika sebuah Toyota Calya tiba-tiba menyelip di tikungan. "Kejadian ini terjadi di kawasan Sunter. Mobil Calya tersebut tiba-tiba menyalip saat berada di tikungan. Karena mobil saya berada di jalur yang benar dan posisinya sudah lebih dulu di depan, saya tetap melaju di jalur saya,” ujar Hendy, dalam keterangannya, Jumat (10/7/2026). Menurut Hendy, pengemudi tersebut kemudian marah, langsung menyalip dengan kecepatan tinggi, lalu mengerem mendadak di depan mobilnya. Setelah itu, ia berteriak-teriak dan menuduh Hendy telah menabrak mobilnya. “Karena saya yakin tidak menabraknya—terlihat juga dari kondisi mobilnya yang tidak mengalami penyok maupun lecet sedikit pun seperti pada foto—saya memilih tidak turun dari mobil,” ucap Hendy. Namun, pengemudi tersebut justru merusak mobil Mini Cooper milik Hendy. Spion dihancurkan, sedangkan wiper ditekuk hingga hampir patah. Ilustrasi berkendara dengan Mazda CX-60 Pro “Belakangan saya juga menyadari bahwa pelat nomor mobil yang dikendarainya ditutupi sebagian," kata dia. Keputusan korban untuk tetap berada di dalam mobil menjadi salah satu langkah yang dapat mengurangi risiko terjadinya bentrokan fisik ketika berhadapan dengan pengemudi yang sedang emosi. Tetap Tenang dan Hindari Konfrontasi Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan, perilaku agresif di jalan tidak selalu dipicu oleh kesalahan berkendara. Ada kalanya pengemudi membawa masalah pribadi yang kemudian dilampiaskan kepada pengguna jalan lain. "Menurut saya, masih banyak pengemudi yang belum memahami makna sebenarnya dari berkendara,” ujar Sony, kepada Kompas.com (10/7/2026). Menurut Sony, ada pengendara yang tujuannya hanya ingin cepat sampai, ada yang berkendara dengan santai atau asal-asalan, ada yang fokus, dan ada pula yang sedang memiliki masalah sehingga mencari pelampiasan di jalan. Ilustrasi marah. Dick Van Dyke menyebut sikap positif sebagai kunci panjang umur, dan studi ilmiah mendukung hal tersebut. “Kelompok terakhir inilah yang sulit ditebak karena kondisinya tidak terlihat dari luar, mereka berada di dalam kabin,” ucap Sony. “Biasanya mereka mulai bertindak agresif ketika emosinya terpancing, yang bisa dipicu oleh berbagai situasi di jalan yang menurut mereka tidak menyenangkan,” kata dia. Karena itu, ketika berhadapan dengan pengemudi yang marah-marah atau bersikap agresif, langkah paling aman adalah tidak terpancing emosi. Bila memungkinkan, tetap berada di dalam kendaraan dengan pintu terkunci, hindari adu argumen, dan cari kesempatan untuk menuju lokasi yang lebih aman atau ramai. Jika situasi mengancam, segera hubungi pihak kepolisian. Ilustrasi ganjil genap di Jakarta. Utamakan Keselamatan, Bukan Ego Menurut Sony, perilaku arogan di jalan bisa terus berulang apabila tidak ada efek jera bagi pelakunya. "Penegakan hukum masih lemah dan terkesan tidak memberikan konsekuensi yang setimpal bagi pelaku. Pada akhirnya kasus sering berujung damai, sementara dampak psikologis yang dialami korban jarang diperhatikan,” kata Sony. “Bayangkan jika satu atau dua tahun ke depan kondisinya semakin memburuk, bukan tidak mungkin pelaku tidak lagi hanya mengandalkan kekerasan fisik, tetapi juga menggunakan senjata tajam atau bahkan senjata api,” ujarnya. Karena itu, ia mengingatkan agar pengguna jalan tidak memprioritaskan ego saat terjadi perselisihan. "Tindakan yang paling bijak adalah mengalah, menjaga jarak, tetap tertib, dan tersenyum. Tebarkan energi positif serta jangan memberi ruang bagi orang lain untuk melampiaskan arogansinya kepada kita,” katanya. Apabila kendaraan mengalami kerusakan akibat tindakan orang lain, dokumentasikan kondisi di lokasi jika situasi memungkinkan, simpan rekaman kamera dasbor (dashcam) bila ada, dan laporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang. Langkah tersebut jauh lebih aman dan efektif dibanding meladeni pengemudi yang sedang kehilangan kendali emosi.