JAKARTA, KOMPAS.com – Rentetan kasus kecelakaan akibat rem blong kembali menjadi perhatian publik. Salah satu yang terbaru adalah insiden Toyota Fortuner di jalur Cangar–Pacet, Malang, kawasan pegunungan dengan turunan panjang yang menuntut teknik berkendara ekstra. Kondisi ini kembali menegaskan bahwa mengemudi mobil matik di jalur ekstrem tak cukup hanya mengandalkan pedal rem. Ada teknik penting yang kerap terlupakan, yakni memanfaatkan engine brake. Kepala Bengkel Auto2000 Pramuka, Jakarta Timur, Suparna, mengingatkan pengemudi agar memahami cara mengendalikan laju kendaraan saat melintasi turunan panjang. “Lakukan pengereman dengan standar yang lebih tinggi, bukan hanya mengandalkan rem tetapi juga membantu dengan mengoperasikan transmisi sesuai dengan kondisi, menurunkan gigi transmisi yang dibutuhkan (engine brake),” ujar Suparna, Jumat (2/1/2025). Ilustrasi jalan menurun Penggunaan engine brake membuat laju kendaraan tertahan oleh putaran mesin. Dengan begitu, beban pengereman tidak sepenuhnya dibebankan pada sistem rem yang berisiko mengalami panas berlebih. Training Director Jakarta Defensive Driving Center (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa mobil bertransmisi matik sejatinya tetap memiliki fungsi engine brake, meski mekanismenya berbeda dibanding mobil manual. “Pada mobil matik, engine brake sebenarnya sudah terjadi ketika pengemudi melepas pedal gas. Saat gas diangkat, mobil akan mengalami perlambatan sebagaimana engine brake pada motor matik dengan CVT,” kata Jusri. Namun, Jusri menekankan bahwa efek engine brake tersebut kadang tidak cukup kuat, terutama saat melintasi turunan panjang dan curam. Tuas transmisi Prius PHEV ada yang menarik, posisi B yang berfungsi untuk engine brake ketika menghadapi turunan, sekaligus mempercepat pengisian baterai lithium-ion pada mobil. Dalam kondisi seperti ini, pengemudi perlu intervensi dengan mengatur posisi transmisi. “Jika membutuhkan engine brake yang lebih besar, maka saat melakukan pengereman pengemudi bisa memindahkan posisi tuas transmisi ke gigi yang lebih rendah,” ujarnya. Pada mobil matik konvensional, pengemudi bisa memindahkan tuas ke posisi D2 atau D1, atau menggunakan posisi L (Low) pada model yang lebih baru. Langkahnya dilakukan bersamaan dengan pengereman. “Ketika tuas sudah dipindah sambil menekan rem, lalu rem dilepas, engine brake akan bekerja lebih kuat. Pada kondisi ini, posisi gigi akan tertahan di gigi tertentu selama proses perlambatan,” kata Jusri. Bagi pengemudi yang tidak ingin memikirkan aspek teknis terlalu jauh, Jusri menyarankan cara paling sederhana. “Cukup saat mengerem pindahkan tuas ke gigi 2 (D2), lalu lepas rem. Engine brake akan bekerja, RPM naik tetapi transmisi tidak naik gigi,” ujarnya. Jika kondisi masih darurat dan efek perlambatan belum cukup, maka tuas transmisi bisa kembali diturunkan ke gigi 1 (D1) untuk mendapatkan engine brake yang lebih besar. Dengan teknik ini, mobil tidak langsung berpindah ke gigi lebih tinggi meski kecepatan bertambah. Efek perlambatan menjadi lebih stabil, sementara kerja sistem rem menjadi lebih ringan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang