Berbuka puasa memang menjadi momen yang ditunggu setelah seharian menahan lapar dan haus. Namun bagi pengemudi, keputusan untuk langsung mengemudi setelah perut kenyang bisa berdampak pada fokus dan kewaspadaan di jalan. Perubahan kondisi tubuh setelah makan, terutama dalam porsi besar dapat memengaruhi kerja sistem saraf dan respons refleks saat berkendara. Rasa kantuk dan tubuh yang terasa berat kerap muncul tanpa disadari, sehingga meningkatkan risiko kesalahan saat menyetir. Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, menyarankan agar pengemudi tidak langsung makan dalam jumlah besar sebelum kembali ke balik kemudi. Gejala awal kanker lambung bisa meliputi perut terasa penuh dan nyeri di bagian atas perut. Ilustrasi kenyang. “Sebaiknya berbuka secukupnya saja, tidak disarankan sampe kenyang. Jika setelah makan kenyang, luangkan waktu satu jam sebelum mengemudi,” kata Sony kepada Kompas.com, Jumat (20/2/2026). Namun, ia juga menjelaskan, hal ini boleh dikecualikan ketika perjalanan luar kota, arena pasti lemas “Saya tidak menyarankan makan oneshoot ya, tapi sebaiknya sedikit-sedikit tetapi dua atau tiga kali,” ucapnya. Apa pun asupan yang dikonsumsi akan menimbulkan reaksi berbeda pada tubuh. Karbohidrat berlebihan misalnya dapat memicu rasa lemas atau mengantuk, sementara protein berperan membantu sistem saraf dalam menjaga kewaspadaan saat berkendara. “Tetap dalam batas ukur yaa, jadi pastikan asupannya dapat membantu pengemudi tetap fokus selama perjalanan,” ucapnya. Jadi bukan sekadar kenyang yang dicari saat berbuka, melainkan energi yang cukup dan stabil untuk melanjutkan perjalanan dengan aman. Mengatur porsi dan memberi waktu istirahat sebelum menyetir dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga keselamatan di jalan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang