PT Wuling Motors Indonesia merespons keputusan Agrinas Pangan Nusantara yang mengimpor 105 ribu kendaraan niaga dari India. Padahal Wuling sudah memproduksi lokal pickup 4x2 lewat Formo Max.Agrinas memboyong 70.000 unit pikap (Mahindra Scorpio dan Tata Yodha) berpenggerak 4x4, serta 35.000 unit truk ringan (Tata Ultra T.7) untuk Koperasi Desa Merah Putih. Tak ada pick up buatan lokal yang digunakan untuk kebutuhan Kopdes tersebut.Direktur Pemasaran PT Wuling Motors Indonesia Ricky Christian menyebut kecocokan produk menjadi kunci utama dalam sebuah pengadaan. Formo Max yang diproduksi lokal diketahui masih mengandalkan sistem penggerak 4x2. "Secara kapasitas produksi dan produk, kita memang memiliki pick up. Tapi kita kembali lagi ke kebutuhan konsumen. Kebutuhan bisa berbeda-beda. Produk yang kita miliki saat ini 4x2, apabila ada kebutuhan segmen produk lain yang tidak kita miliki, tentu kita tidak bisa supply," jelasnya Ricky di Jakarta, Jumat (13/3/2026).Ricky juga menjelaskan bahwa industri otomotif tidak bisa secara instan menyediakan puluhan ribu unit tanpa perencanaan. Sistem yang dianut adalah make to stock berdasarkan perkiraan kebutuhan."Kalau ada permintaan dalam jumlah cukup besar, tentu perlu ada proses yang kita persiapkan dan jangka waktu untuk kebutuhan materialnya," tambah Ricky.Wuling Indonesia mengatakan belum ada komunikasi dengan pihak Agrinas terkait pengadaan pickup untuk Kopdes Merah Putih."Sebenarnya belum ada komunikasi (dari Agrinas). Mungkin kembali lagi karena kebutuhan produk tidak sesuai atau berbeda. Tapi intinya, Wuling terbuka apabila memang cocok dengan produk yang kami miliki saat ini," pungkasnya.Sebagai catatan, 105.000 unit kendaraan yang diimpor Agrinas dari India mengundang kritik dari beragam kalangan lantaran dianggap kurang berpihak pada industri otomotif yang sudah membangun basis produksi di dalam negeri.Tak dipungkiri setiap unit mobil yang keluar dari pabrik di Indonesia melibatkan rantai pasok yang panjang, mulai dari penyedia bahan baku hingga pabrik komponen kecil. Jika permintaan dialihkan ke produk lokal, maka seluruh rantai ini akan ikut bergerak."Kita bisa melihat dampak ekonomi, teman-teman industri paham bahwa ketika diproduksi (lokal) ada forward linkage dan backward linkage yang lebih positif untuk ekosistem di sekitarnya," ujar Ricky."Jadi apabila menggunakan produksi lokal bisa memajukan lagi untuk pabrik-pabrik komponen maupun ekonomi yang bisa lebih bertumbuh karena adanya permintaan dan juga produksi secara dalam negeri," jelas dia.