Pertalite merupakan satu-satunya bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan octane number (RON) 90 di Tanah Air. Produk ini juga menjadi bensin paling murah karena masih mendapatkan subsidi dari pemerintah. Terlepas dari harganya yang ekonomis, faktanya Pertalite memiliki sejumlah kekurangan bila terus-terusan dikonsumsi oleh kendaraan bermotor. Seperti penurunan performa, mesin cepat kotor, lebih boros dan kerusakan komponen. Gio, pemilik bengkel sepeda motor Giovani Motors Cawas, Klaten mengatakan motor bisa saja mengkonsumsi Pertalite asalkan dirawat dengan baik. “Dari segi performa tidak akan begitu terasa bedanya, mungkin karena motor berbeda dengan mobil yang memiliki bobot lebih besar, hanya saja motor butuh perawatan lebih sering,” ucap Gio kepada KOMPAS.com, Senin (17/11/2025). Motor yang biasa pakai Pertalite biasanya injektornya kotor, bila tidak dibersihkan bisa menyebabkan performa menurun. Sementara injektor motor biasa pakai Pertamax lebih bersih. “Ini juga berpengaruh pada kualitas oli mesin, sehingga motor yang pakai Pertalite perlu mengganti oli maksimal 3.000 Km agar pelumasan tetap baik, dan komponen lebih awet,” ucap Gio. Injektor Mobil. Hardi Wibowo, pemilik bengkel Spesialis Nissan - Honda Yogyakarta mengatakan Pertalite memiliki nilai RON 90, umumnya berada di bawah standar ketentuan pabrikan mobil. “Mobil-mobil modern cenderung punya kompres tinggi, sehingga membutuhkan bensin tak mudah terbakar sendiri, seperti Pertalite dengan RON 90, dampaknya mobil bisa mudah ngelitik, tenaganya kurang optimal,” ucap Hardi kepada KOMPAS.com, Senin (17/11/2025). Selain performa, kerak karbon yang dihasilkan dari mobil yang biasa pakai Pertalite lebih banyak. Hal ini dapat terlihat ketika mobil melakukan perawatan atau pembersihan ruang bakar. “Kerak karbon cenderung lebih banyak bila sering pakai Pertalite, menumpuk di katup dan sekitar ruang bakar, termasuk di ujung busi dan injektor, ini bisa mengganggu proses pembakaran,” ucap Hardi. Maka dari itu, mobil yang menenggak Pertalite biasanya sembuh dari penyakit ngelitik setelah dilakukan pembersihan ruang bakar, tapi tak lama setelah itu muncul ngelitik lagi. “Pada dasarnya Pertalite tak cocok dengan mesin bakar kompresi tinggi, seiring pemakaian kerak karbon menumpuk di ruang bakar dan memperparah ketidaksempurnaan pembakaran,” ucap Hardi. Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen Dosen Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI), Danardono A. Sumarsono, menyebut, meski murah, Pertalite memiliki kekurangan karena tak mampu memberikan performa terbaik untuk kendaraan dengan mesin kompresi tinggi. "Jika tidak terlalu khawatir dengan performa mesin atau efisiensi bahan bakar, Pertalite bisa menjadi pilihan yang lebih menguntungkan konsumen karena harganya lebih ekonomis," ucap Danardono mengutip dari KOMPAS.com, Senin (17/11/2025). Danardono mengatakan, konsumsi bahan bakar Pertalite cenderung lebih boros dibandingkan Pertamax, sehingga mungkin perlu mengisi bahan bakar lebih sering. Maka dari itu, jika pengguna kendaraan ingin mencari BBM dengan harga yang lebih ekonomis dan tidak tidak terlalu khawatir dengan dampak bagi performa mesin, bisa menggunakan Pertalite. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.