Pemerintah Delhi, India, baru saja menerbitkan naskah awal yang mengatur soal pengadaan subsidi kendaraan listrik terbaru. Menariknya, kebijakan itu bukan bersifat jangka pendek, melainkan jangka panjang hingga lima tahun ke depan!Pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi mengatakan, ketika bicara soal investasi, maka subsidi harusnya diberlakukan jangka panjang. Sementara di Indonesia, kebijakan sejenis biasanya diubah-ubah setiap tahun alias tak konsisten. "Investasi tidak pernah bicara soal short term. Jadi kalau untuk meyakinkan investor, policy itu harus dibaca secara clear. Jangan setiap tahun berubah, setiap tahun berubah," ujar Agus Purwadi saat ditemui detikOto di Senayan, Jakarta Pusat.Mobil listrik di India. Foto: Doc. Hindustan TimesMeski demikian, pasar mobil listrik di India dan Indonesia kemungkinan besar berbeda. Menurutnya, di Indonesia, market share kendaraan tersebut sudah tinggi. Sehingga, yang harus disubsidi pemerintah adalah industri roda empat secara umum."Kalau untuk investasi memang kebijakannya harus (berjangka) lima tahun, itu pun minimal. Tapi insentifnya (diberikan) ke industri, harus ekosistemnya. Semua, biar tumbuh. Jadi yang belum tumbuh, ditumbuhin," kata dia.Diberitakan sebelumnya, pemerintah Delhi, India, merilis draf awal Kebijakan Kendaraan Listrik (EV) 2026-2030 yang menjanjikan berbagai insentif untuk mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan.Dalam draf tersebut, motor listrik menjadi pihak yang paling diuntungkan. Pada tahun pertama implementasi, konsumen bisa mendapat subsidi hingga 30 ribu rupee atau hampir Rp 6 juta, tergantung kapasitas baterai.Nilai insentif tersebut akan menurun pada tahun kedua dan ketiga. Selain itu, ada tambahan bonus 10 ribu rupee atau Rp 2 jutaan bagi pengguna yang menukar motor lama berbahan bakar bensin (BS4 atau lebih tua) dengan motor listrik. Registrasi motor bensin secara bertahap akan dihentikan.Sementara itu, mobil listrik tidak mendapat subsidi langsung. Namun, pemerintah memberikan pembebasan pajak jalan dan biaya registrasi untuk mobil listrik dengan harga di bawah Rs 30 lakh atau Rp 550 juta.Kendaraan hybrid juga ikut mendapat perhatian. Pemerintah setempat memberikan potongan 50 persen untuk pajak jalan dan biaya registrasi, meskipun tanpa insentif scrappage. Beberapa model berpotensi diuntungkan, seperti Toyota Innova HyCross dan Urban Cruiser HyRyder.