Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dalam beberapa waktu terakhir membuat sebagian pemilik mobil mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran, salah satunya dengan menurunkan jenis BBM yang digunakan. Namun, langkah ini bukan tanpa risiko, terutama jika oktan atau RON yang dipakai berada di bawah rekomendasi pabrikan kendaraan. Menurut Tri Yuswidajajanto Zaenuri, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), penggunaan BBM dengan RON lebih rendah dari yang dianjurkan dapat memengaruhi proses pembakaran di dalam mesin. “Penggunaan BBM dengan RON lebih rendah dari spesifikasi mesin bisa menyebabkan pembakaran tidak optimal, sehingga kinerja mesin menurun dan emisi gas buang menjadi lebih tinggi,” kata Tri kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2026). Secara teknis, angka RON menunjukkan kemampuan bahan bakar dalam menahan tekanan sebelum terbakar. Mesin modern umumnya dirancang dengan rasio kompresi tertentu yang membutuhkan RON spesifik agar pembakaran terjadi pada waktu yang tepat. Jika BBM yang digunakan memiliki RON lebih rendah, bahan bakar menjadi lebih mudah terbakar sebelum waktunya. Kondisi ini dikenal sebagai detonasi atau knocking, yang sering ditandai dengan bunyi “nglitik” dari mesin saat mobil berakselerasi. Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Pemerintah menegaskan bahwa harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tidak akan mengalami kenaikan dan memastikan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman dan tersedia. Dalam jangka pendek, knocking memang hanya terasa sebagai penurunan performa. Tenaga mesin menjadi kurang responsif, bahkan konsumsi BBM bisa lebih boros karena pembakaran tidak efisien. Namun, jika kondisi ini terjadi terus-menerus, dampaknya bisa jauh lebih serius. Tekanan dan panas berlebih akibat detonasi dapat merusak komponen internal mesin, terutama piston. Pada kasus ekstrem, piston bahkan bisa mengalami kerusakan hingga berlubang. Jika sudah demikian, biaya perbaikan yang dibutuhkan tentu tidak sedikit dan jauh lebih besar dibanding selisih harga BBM yang dihemat. Karena itu, pemilik kendaraan disarankan tetap menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan. Selain menjaga performa tetap optimal, langkah ini juga penting untuk mempertahankan usia pakai mesin agar tetap panjang dan minim risiko kerusakan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang