Parkir paralel menjadi salah satu metode yang cukup sering digunakan kendaraan berukuran besar, terutama truk. Metode ini memungkinkan kendaraan diposisikan sejajar dengan kendaraan lain atau sisi jalan, sehingga truk tidak harus melakukan banyak manuver ketika hendak meninggalkan area parkir. Pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengemudi truk memilih parkir paralel. "Jadi biasanya juga, parallel parking biasanya paling disukai oleh pengemudi kendaraan besar, truk-truk besar," kata Jusri kepada Kompas.com, akhir pekan lalu. Antrean kendaraan di SPBU Jalan Ring Road, Kelurahan Malendeng, Kecamatan Tikala, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (29/7/2026) Bagi kendaraan berdimensi panjang seperti truk, manuver mundur menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Ukuran kendaraan yang besar membuat area pandang pengemudi lebih terbatas dan membutuhkan ruang manuver lebih luas. "Karena untuk menghindari yang namanya gerakan mundur yang sedikit berbahaya, mereka mencari tempat," ujarnya. "Sehingga ketika gerakan pertama ketika mereka kembali ke truk, sopir bisa langsung maju,” kata Jusri. Petugas Dinas Perhubungan Kabupaten Dharmasraya menertibkan antrean truk di bahu Jalan Lintas Sumatera, Rabu (15/07/2026). Penertiban dilakukan untuk mengurai kepadatan kendaraan di sekitar SPBU sekaligus menjaga kelancaran arus lalu lintas. Parkir paralel Meski terlihat sederhana, parkir paralel sebenarnya membutuhkan teknik tertentu. Pengemudi tidak dianjurkan langsung memasukkan bagian depan kendaraan ke ruang kosong di antara dua kendaraan. Untuk mendapatkan posisi yang tepat, kendaraan justru dimasukkan dengan cara mundur. Cara ini memungkinkan bagian depan kendaraan berada di arah jalur ketika truk selesai parkir. Aksi memecahkan rekor parkir paralel dengan Fiat 500C “Metode parallel parking itu bukan masuk depan. Kalau di celah-celah dua buah mobil yang ada kosong, parkir paralel yang paling tepat adalah dengan cara mundur," kata Jusri. “Sejajarkan dengan mobil di depan, kurang lebih sejajar sekitar setengah meter. Kemudian dari kaca spion kiri, kita lihat batasan obyek atau turning point," katanya. Turning point Menurut Jusri, pengemudi juga perlu memahami titik putar atau turning point kendaraan. Posisi titik tersebut bisa berbeda, tergantung ukuran dan bentuk kendaraan. “Begitu kita bergerak sampai di panel A, di panel A. Atau ketika titik turning point-nya itu sampai di as roda, roda belakang. Atau bergantung daripada panjang bodi kendaraan. Ada kendaraan yang pendek, ada kendaraan jeep yang lebar belakangnya dari sumbu rodanya pendek, atau sedan," katanya. Karena itu, kata Jusri, pengemudi tidak bisa menggunakan satu patokan yang sama untuk semua jenis kendaraan. Posisi roda, panjang bodi, hingga bentuk bagian belakang kendaraan dapat memengaruhi titik putarnya. "Kita lihat di situ, kita harus tahu turning point-nya di mana. Jadi dia harus sesuaikan, di situ dia tinggal putar. Akhirnya dia masuk dengan dua-tiga kali putaran, dia masuk, dia parkir," ujar Jusri.