Ban menjadi salah satu komponen penting pada truk yang perlu mendapat perhatian. Selain menopang beban kendaraan dan muatan, ban juga bersentuhan langsung dengan permukaan jalan sehingga tingkat keausannya sangat dipengaruhi kondisi berkendara. Menariknya, ban truk bagian kiri disebut cenderung lebih cepat aus dan lebih sering mengalami kerusakan dibandingkan ban sebelah kanan. Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DI Yogyakarta Bambang Widjanarko mengatakan, kondisi tersebut berkaitan dengan kebiasaan truk melaju di sisi kiri jalan. “Jadi, biasanya (ban) yang sebelah kiri itu lebih boros," kata Bambang kepada Kompas.com, akhir pekan lalu. Tekanan udara ban truk Sering Turun dari Aspal Bambang menjelaskan, ban sebelah kiri lebih sering keluar dari permukaan aspal, terutama ketika kendaraan harus mengambil bagian tepi jalan. “Ban sebelah kiri lebih sering turun dari aspal. Kalau turun dari aspal, kebanyakan memang sebelah kiri karena kita setir kanan dan berkendara di sisi kiri. Selain itu, permukaan jalan juga biasanya miring ke sebelah kiri," katanya. Dalam kondisi tertentu, truk bisa melewati bahu jalan atau bagian tepi aspal. Perbedaan permukaan antara aspal dan tanah membuat kerja ban menjadi lebih berat. Selain itu, kondisi tepi jalan juga tidak selalu bersih dan rata. Berbagai benda keras dapat berada di area tersebut dan berpotensi mengenai ban. “Orang sering ngerolak, yaitu turun dari aspal ke bagian bawah jalan, seperti tanah atau lainnya. Itu biasanya hanya di sebelah kiri, sedangkan yang kanan tidak. Jadi, ban sebelah kiri lebih rawan bermasalah,” ungkap Bambang. Polantas tengah memeriksa ban truk tronton yang pecah di Jl Teuku Umar Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (20/10/2022). Risiko Ban Kiri Lebih Besar Menurut Bambang, persoalannya bukan hanya tingkat keausan. Ban sebelah kiri juga lebih berisiko mengalami kerusakan akibat menghantam benda keras di pinggir jalan. “Bukan cuma habisnya lebih dulu, tetapi juga lebih rawan mengalami kerusakan karena vandalisme. Vandalisme itu misalnya terbentur batu, terkena besi pelat, atau besi siku potongan," katanya. “Itu banyak ditemukan di pinggir-pinggir jalan yang kondisinya kotor. Jadi, risikonya ketika truk dan bannya turun dari aspal, ban akan menghantam apa pun yang ada di situ,” ujar Bambang. Benda seperti batu, potongan besi, atau material keras lainnya dapat merusak permukaan maupun bagian dalam ban. Jika kerusakan tidak segera diketahui, kondisi tersebut dapat mengurangi usia pakai ban. “Jadi, risiko kerusakan sebelum waktunya, itu lebih besar di sebelah kiri. Kalau yang sebelah kanan, premature damage lebih jarang,” kata Bambang.