Ilustrasi perempuan atau wanita menyetir mobil. Banyak pengendara pernah merasakan mobil yang dikemudikan terasa kurang bertenaga saat melintasi jalur pegunungan. Ketika pedal gas diinjak lebih dalam, respons mesin terasa berbeda dibanding saat berkendara di jalan datar atau perkotaan. Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan pengemudi. Secara teknis, performa mobil bermesin bensin memang bisa menurun ketika digunakan di daerah dengan ketinggian yang lebih tinggi dari permukaan laut. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Disadur VIVA Otomotif dari Slashgear, Rabu 3 Juni 2026, penyebab utamanya adalah berkurangnya kadar oksigen di udara. Semakin tinggi suatu wilayah, semakin tipis udara yang tersedia. Padahal mesin pembakaran internal membutuhkan campuran udara dan bahan bakar dalam jumlah tertentu agar proses pembakaran berlangsung optimal.Ketika kadar oksigen berkurang, proses pembakaran di dalam ruang mesin tidak bisa menghasilkan tenaga sebesar saat kendaraan digunakan di dataran rendah. Akibatnya, performa mobil terasa menurun terutama saat digunakan untuk menanjak.Para ahli otomotif memperkirakan tenaga mesin dapat berkurang sekitar 3 persen untuk setiap kenaikan ketinggian sekitar 1.000 kaki atau sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Efek ini biasanya lebih terasa pada mobil bermesin naturally aspirated atau tanpa turbo.Sebagai contoh, kendaraan yang digunakan di kawasan pegunungan seperti Dieng, Bromo, atau Puncak dapat mengalami penurunan tenaga yang cukup terasa dibanding ketika digunakan di Jakarta atau kota-kota pesisir.Selain kehilangan tenaga, konsumsi bahan bakar juga berpotensi meningkat. Hal itu terjadi karena mesin harus bekerja lebih keras untuk melawan gravitasi saat melintasi tanjakan panjang.Kondisi jalan pegunungan yang penuh tikungan dan perubahan elevasi membuat pengemudi lebih sering melakukan akselerasi. Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros dibanding perjalanan di jalan tol yang relatif datar.Berbeda dengan mobil bermesin bensin, mobil listrik tidak mengalami penurunan tenaga akibat berkurangnya kadar oksigen. Motor listrik tetap mampu menghasilkan torsi secara instan meskipun berada di daerah berketinggian tinggi.Namun bukan berarti mobil listrik bebas masalah saat digunakan di pegunungan. Kendaraan listrik biasanya mengalami penurunan jarak tempuh karena membutuhkan energi lebih besar untuk mendaki.Saat perjalanan menurun, sebagian energi memang bisa dikembalikan ke baterai melalui sistem regenerative braking. Teknologi ini memanfaatkan putaran roda untuk menghasilkan listrik ketika kendaraan melambat atau menuruni jalan.Meski demikian, energi yang kembali ke baterai umumnya tidak sepenuhnya menggantikan energi yang digunakan selama perjalanan menanjak. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Agar perjalanan ke daerah pegunungan lebih nyaman dan aman, pengemudi disarankan melakukan pemeriksaan kendaraan terlebih dahulu. Kondisi ban, sistem pengereman, cairan pendingin mesin, dan oli harus dipastikan dalam kondisi baik sebelum berangkat.Bagi pengguna mobil listrik, perencanaan perjalanan menjadi hal yang tidak kalah penting. Pastikan baterai terisi cukup dan ketahui lokasi stasiun pengisian daya yang tersedia di sepanjang rute perjalanan.