JAKARTA, KOMPAS.com – Penjualan kendaraan listrik di sejumlah daerah mulai menunjukkan pergerakan setelah hadirnya model yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen lokal. Jika sebelumnya pasar didominasi karena penasaran teknologi baru, kini tren mulai bergeser seiring hadirnya mobil listrik di segmen city car dengan harga lebih terjangkau. Menurut Hariyadi Kaimuddin selaku CEO PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto, diler resmi BYD dan Denza), karakter konsumen di daerah pada tahap awal memang didominasi pembeli yang penasaran dan ingin mencoba teknologi baru, bukan karena pertimbangan rasional sepenuhnya. “Di teknologi apa pun ada kurvanya. Ada early adopters kita menyebutnya, yang penting barang baru, euforia, ingin punya duluan. Hitung-hitungannya belum terlalu jadi pertimbangan,” ujarnya di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026). Ia mencontohkan, di kota besar seperti Makassar sekalipun, penjualan awal kendaraan listrik per cabang hanya berkisar 20–30 unit. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan merek konvensional yang sebelumnya dikelola perusahaan, yang mampu mencatat penjualan di atas 100 unit per cabang. Namun situasi mulai berubah ketika perusahaan menghadirkan model city car seperti BYD Atto 1. Test Derive BYD Atto 1 Berbeda dengan model sebelumnya yang bersegmen MPV dan kerap diasosiasikan untuk perjalanan luar kota, city car dinilai lebih sesuai dengan pola penggunaan masyarakat perkotaan di daerah. “Kalau mobil seperti M6, orang sudah berpikir dipakai keluar kota. Sementara charging di luar kota besar belum banyak, jadi masih ragu. Tapi ketika Atto 1 hadir sebagai city car, yang memang hanya dipakai berputar di dalam kota, orang jadi lebih berani beli,” kata Hariyadi. Menurut dia, perubahan fungsi dan segmentasi tersebut langsung berdampak pada penjualan. Di salah satu cabang, angka penjualan disebut melonjak hingga sekitar 100 unit setelah model city car diperkenalkan. Selain faktor penggunaan yang lebih relevan, harga yang lebih terjangkau juga turut memengaruhi keputusan konsumen. Kombinasi antara fungsi yang jelas dan harga kompetitif membuat pasar di kota seperti Makassar mulai bergerak lebih cepat. Kendati demikian, ia mengakui di kota-kota lain seperti Palu dan Kendari, pasar masih berada pada tahap awal, di mana pembeli didominasi konsumen yang berani mencoba lebih dulu. “Di beberapa daerah memang masih tipe yang benar-benar nekat. Tapi makin banyak yang coba, makin tahu kualitasnya. Pasti butuh waktu,” ujarnya. Hariyadi menilai, kurva adopsi kendaraan listrik di daerah akan terus berkembang secara bertahap, dari konsumen pionir menuju pasar yang lebih rasional dan massal, terutama jika model yang ditawarkan semakin sesuai dengan kebutuhan dan infrastruktur pendukung semakin memadai. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang