Aksi seorang pengemudi mobil low cost green car (LCGC) yang tampak merusak Mini Cooper di kawasan Sunter menjadi perhatian publik setelah videonya diunggah akun Instagram @dashcamindonesia. Dalam video tersebut, pengemudi terlihat meluapkan emosi hingga merusak spion dan menekuk wiper mobil milik akun @hendysantono. Fenomena seperti ini dikenal sebagai road rage, yakni perilaku agresif yang dipicu oleh emosi saat berkendara. Namun, apa sebenarnya yang membuat seseorang bisa kehilangan kendali hingga melakukan perusakan di jalan? Pakar psikologi dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengatakan perilaku tersebut bukan sekadar dipicu oleh situasi di jalan, melainkan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi dan berempati terhadap orang lain. "Sering kali setelah sebuah kejadian menjadi viral, pelaku baru menyampaikan permintaan maaf dan mengaku khilaf. Padahal, persoalan utamanya adalah rendahnya empati dan kemampuan mengendalikan diri,” ujar Rose, kepada Kompas.com (10/7/2026). “Ketika seseorang tidak mampu mengontrol emosinya dan tidak memiliki empati terhadap orang lain, perilaku agresif seperti itu mudah terjadi,” kata dia. Lemahnya Empati dan Kontrol Diri Menurut Rose, setiap orang sebenarnya mengetahui bahwa merusak barang milik orang lain atau melakukan kekerasan merupakan tindakan yang salah. Namun, perilaku tersebut tetap terjadi ketika kontrol diri tidak mampu mengendalikan emosi yang muncul. "Hal tersebut berkaitan dengan moral. Semua orang sebenarnya tahu bahwa memukul orang atau merusak barang milik orang lain adalah tindakan yang salah. Namun, mengapa tetap dilakukan? Karena kontrol diri dan empatinya lemah,” ujar dia. Dalam moral terdapat beberapa unsur penting, seperti empati, kontrol diri, dan nurani. Nurani adalah kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ilustrasi pengendara motor berantem. Selain itu, ada pula nilai-nilai lain seperti kebaikan (kindness), keadilan (fairness), toleransi (tolerance), dan rasa hormat (respect). Nilai-nilai tersebut seharusnya mulai ditanamkan sejak usia dini agar seseorang memiliki fondasi moral yang kuat. Karena itu, orang yang melakukan kekerasan di jalan sebenarnya sedang menunjukkan lemahnya kemampuan membedakan perilaku yang baik dan buruk. Setelah kasusnya viral, barulah muncul rasa takut terhadap konsekuensi hukum sehingga akhirnya meminta maaf. “Padahal, semakin dewasa seseorang, seharusnya semakin baik pula kemampuannya dalam mengendalikan diri,” ucap Rose. Ia menjelaskan, ketika emosi sudah mengambil alih, seseorang cenderung bereaksi secara spontan tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Akibatnya, konflik kecil di jalan bisa berkembang menjadi tindakan agresif yang merugikan orang lain maupun diri sendiri. Lalu lintas kendaraan di Tol Dalam Kota Jakarta tampak padat pada jam pulang kerja di hari ketiga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap dua, Rabu (16/9/2020). Pembatasan kendaraan bermotor melalui skema ganjil genap di berbagai ruas Ibu Kota resmi dicabut selama PSBB tahap dua. Jangan Berkendara Saat Emosi Tidak Stabil Rose mengatakan, cara seseorang merespons konflik juga dipengaruhi oleh gaya komunikasinya. Ada yang mampu menyampaikan keinginan secara baik-baik, tetapi ada pula yang memilih marah atau menyindir sehingga persoalan semakin membesar. "Ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan di jalan, memang tidak selalu mudah untuk langsung menyelesaikannya dengan berbicara baik-baik karena semua orang berada di kendaraan masing-masing. Namun, setidaknya jangan langsung bereaksi. Diam sejenak dan tenangkan diri sebelum mengambil Tindakan,” ucap Rose. Ia juga mengingatkan bahwa kondisi psikologis sebelum berkendara turut menentukan bagaimana seseorang bereaksi saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan di jalan. Sejumlah pengendara sepeda motor berhenti di lampu lalu lintas di jalur Kalimalang, simpang BCP, Jalan KH Noer Ali, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Senin (16/3/2026) pagi. "Sebelum mengendarai mobil, motor, atau kendaraan apa pun di jalan raya, seseorang juga sebaiknya memastikan kondisi emosinya dalam keadaan baik. Jangan berkendara saat sedang marah, gelisah, cemas berlebihan, atau sangat sedih,” katanya. Alasannya sederhana, di jalan raya terdapat banyak sekali pemicu emosi yang datang tanpa diduga. Jika kondisi psikologis sejak awal sudah tidak stabil, risiko bereaksi secara berlebihan ketika menghadapi masalah di jalan akan semakin besar. Dengan kata lain, penyebab road rage tidak semata-mata karena kemacetan atau kesalahan pengguna jalan lain. Kemampuan mengendalikan emosi, empati, serta kesiapan mental sebelum berkendara menjadi faktor penting agar konflik di jalan tidak berubah menjadi tindakan yang membahayakan.