Setiap akhir pekan, jalur menuju Puncak, Bogor, hampir selalu dipadati kendaraan dari Jabodetabek. Baik motor ataupun mobil sering kali memenuhi sejumlah ruas jalan menuju selatan Jakarta. Kemacetan kerap digambarkan “horor”, antrean kendaraan mengular berjam-jam, seperti yang terjadi beberapa bulan lalu. Bahkan pihak berwajib sampai harus melakukan sistem buka-tutup jalur. Namun menariknya, fenomena ini tidak pernah benar-benar membuat orang kapok. Satu unit bus wisata mogok di tanjakan Cipayung, Puncak, Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/5/2025). Akibatnya, kemacetan terjadi di jalur Puncak Bogor siang tadi. Bahkan bagi sebagian warga Jakarta, Puncak tetap menjadi tujuan liburan utama, sekaligus tempat “pelarian singkat” dari rutinitas kerja di Ibu Kota. Rupanya alasannya beragam, dari jarak yang dekat, biaya perjalanan yang relatif terjangkau, hingga pilihan destinasi wisata yang terus bertambah. Naufal (30), karyawan swasta yang berdomisili di Tangerang Selatan, mengatakan, Puncak masih menjadi pilihan logis bagi masyarakat yang hanya memiliki waktu libur singkat. Sejumlah kendaraan melintasi jalur Puncak Pass, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (25/12/2025). Sejak diberlakukan Operasi Lilin Lodaya 2025, arus lalu lintas di jalur wisata itu mengalami lonjakan. “Dari Jakarta naik sepeda motor mungkin 1,5 jam doang. Kalau ke Bandung atau Jogja kan lumayan jauh. Jadi menurut saya, buat orang yang liburnya enggak lama, sehari dua hari doang, ya paling masuk akal,” ujar dia, kepada Kompas.com (28/12/2025). Ketika ditanya apakah dirinya pernah kapok setelah terjebak macet berjam-jam, Naufal mengaku belum pernah mengalami. Sebab dirinya menyiasati liburan ke Puncak saat hari kerja ketimbang waktu libur panjang. Hal senada disampaikan Danang (33), karyawan swasta asal Jakarta. Menurutnya, biaya perjalanan yang relatif terjangkau menjadi pertimbangan utama. Seorang anggota polisi sedang mengatur kendaraan di bundaran Tugu Lampu Gentur Cianjur, Jawa Barat, Jumat (3/9/2021) menyusul pemberlakuan sistem ganjil genap di kawasan Puncak hari ini. “Liburan ke Puncak itu murah meriah. Daripada ke Bandung, tol dan bensinnya lebih mahal, mending ke Puncak karena lebih terjangkau. Meskipun bakal kena macet, tapi bisa disiasati dengan berangkat lebih pagi,” katanya, pada kesempatan yang sama. Untuk biaya bensin mobil sekelas Low MPV, yang dapat menampung tujuh orang, menurutnya cukup mengisi full tank sekitar Rp 300.000. Bahan bakar tersebut cukup untuk berangkat dari Jakarta sampai Puncak, selama berkegiatan di sana, hingga pulang lagi ke Jakarta. Bahkan saat kembali sampai rumah, menurutnya bensin masih tersisa setengah tangki. Pengunjung berpose di dekat De Wind Mills di Cimory Dairyland, Bogor, Jawa Barat. “Destinasinya banyak dan menarik buat anak-anak. Makanya balik ke Puncak lagi, karena dalam sehari belum tentu habis. Penasaran juga soalnya sama tempat-tempat lainnya,” ucap dia. Namun begitu, sebagian masyarakat mulai mencari alternatif tujuan liburan yang lebih sepi, tetapi tetap dekat di sekitar area Bogor. Arifin (31), karyawan swasta asal Depok misalnya, memilih kawasan Cijeruk di sekitar Tol Bocimi sebagai opsi selain Puncak, terutama saat periode libur panjang. Ilustrasi pemandangan di kawasan Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, sebagai alternatif wisata dari Puncak. “Saya berangkat dari Depok dan lewat Tol Jagorawi lanjut ke Tol Bocimi, lalu keluar di Gerbang Tol Cijeruk. Perjalanan berangkat relatif lancar, kurang lebih satu jam. Saya memang sengaja pilih ke Cijeruk karena malas kena macet di Puncak, apalagi pas libur panjang begini,” ujarnya. Meski perjalanan berangkat relatif lancar, kemacetan tetap ia temui saat kembali ke arah Jakarta, terutama saat di jalan tol. “Sebenarnya sempat kepikiran ke Puncak, tapi karena sudah kebayang macetnya, akhirnya saya cari opsi yang lebih dekat tapi tetap adem. Cijeruk itu masih dapat suasana dinginnya, tapi jalurnya enggak terlalu padat,” kata dia. Rest Area Gunung Mas di Kawasan Wisata Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ketua Umum Inisiatif Strategis Transportasi (Instran), Budi Susandi, menjelaskan fenomena orang-orang yang tidak kapok ke Puncak meski bakal menghadapi macet sebenarnya tidak lepas dari beban aktivitas masyarakat di wilayah metropolitan. “Pada dasarnya kan semua orang yang beraktivitas dan berdomisili di kota besar, metropolitan seperti Jakarta dan Jabodetabek sekitarnya itu, mereka memiliki persoalan pekerjaan yang sangat besar,” ujar Budi, kepada Kompas.com (28/12/2025). “Sehingga itu akan membutuhkan refreshing gitu, untuk menetralkan kepenatan tersebut dengan cara melakukan liburan atau healing ya, mungkin bahasanya sekarang,” kata dia. Sejumlah kendaraan mengular di Jalur Puncak Bogor dari arah Gunung Mas sampai Masjid Atta'Awun, Bogor, Minggu (14/6/2020). Menurutnya, liburan ke kawasan berhawa sejuk seperti Puncak dianggap mampu memberikan efek pemulihan mental dan fisik. “Karena diketahui ya, selain masalah penat dengan beban kerja dari hari Senin sampai Jumat, Jakarta atau kota-kota besar itu kan kualitas udaranya selalu tidak baik ya, karena polusi oleh asap kendaraan bermotor,” ucap Budi. Budi menambahkan, masyarakat kini semakin sadar pentingnya mencari udara lebih bersih di akhir pekan. Selain itu, menurutnya pilihan destinasi wisata dengan daya tarik setara Puncak di kawasan Jabodetabek masih terbatas. Sejumlah wisatawan tampak memadati Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor pada libur akhir tahun 2024, Minggu (29/12/2024). “Di Jabodetabek itu memang tidak ada alternatif tempat hiburan yang bisa jadi pilihan kedua, atau minimal yang daya tariknya sama seperti Puncak,” ujarnya. Pada akhirnya, kemacetan tampaknya belum cukup kuat membuat masyarakat benar-benar menjauhi Puncak. Bagi sebagian orang, udara sejuk, kedekatan jarak, dan ragam destinasi masih menjadi alasan kuat untuk kembali, meski risiko macet panjang selalu menanti. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang