Insiden di jalan raya bisa dialami siapa saja, mulai dari senggolan ringan hingga perselisihan akibat salah paham. Namun, cara menyikapinya menjadi penentu apakah masalah dapat selesai dengan damai atau justru berujung konflik. Pakar psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengatakan, saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan di jalan, hal terpenting adalah mengendalikan emosi. Marah merupakan hal yang wajar, tetapi harus diekspresikan dengan cara yang tepat. Utamanya agar tidak merugikan orang lain dan diri sendiri. Ilustrasi pengendara emosi Utamakan Kepala Dingin Menurut Rose Mini, jika tanpa sengaja menyenggol kendaraan lain, pengendara sebaiknya berhenti, meminta maaf, lalu menyelesaikan persoalan dengan baik. Sebaliknya, bila pengguna jalan lain melakukan kesalahan, sampaikan keberatan secara sopan, bukan dengan emosi. "Jangan melarikan diri, tetapi jangan pula ketika merasa bersalah justru marah-marah," ujar Rose, kepada Kompas.com (10/7/2026). Ilustrasi kecelakaan bus. Tragedi memilukan terjadi di wilayah Markapuram, Andhra Pradesh, India, pada Kamis (26/3/2026) pagi. Sebuah bus swasta yang mengangkut puluhan penumpang terlibat tabrakan hebat dengan truk pengangkut kerikil hingga mengakibatkan belasan orang kehilangan nyawa. Apabila situasi mulai mengarah pada kekerasan, ia menyarankan agar tidak memaksakan diri menyelesaikan masalah sendirian. Mintalah bantuan polisi atau orang di sekitar untuk meredakan keadaan. Rose menilai, banyak kasus kekerasan di jalan dipicu oleh rendahnya empati dan lemahnya kontrol diri. Padahal, setiap orang memahami bahwa memukul atau merusak barang milik orang lain merupakan tindakan yang salah. Ilustrasi marah. Dick Van Dyke menyebut sikap positif sebagai kunci panjang umur, dan studi ilmiah mendukung hal tersebut. Gunakan Komunikasi Asertif Rose menjelaskan, saat menghadapi konflik, seseorang umumnya akan bereaksi secara asertif, agresif, atau pasif-agresif. Dari ketiganya, komunikasi asertif menjadi pilihan terbaik karena memungkinkan seseorang menyampaikan keberatan dengan tegas tanpa menyakiti orang lain. Namun, sikap tersebut hanya bisa dilakukan jika emosi tetap terkendali. Karena itu, ia mengingatkan agar pengendara tidak langsung bereaksi saat menghadapi masalah di jalan. Diam sejenak dan tenangkan diri sebelum mengambil keputusan. Lalu lintas kendaraan di Tol Dalam Kota Jakarta tampak padat pada jam pulang kerja di hari ketiga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap dua, Rabu (16/9/2020). Pembatasan kendaraan bermotor melalui skema ganjil genap di berbagai ruas Ibu Kota resmi dicabut selama PSBB tahap dua. Selain itu, kondisi psikologis sebelum berkendara juga perlu diperhatikan. Hindari mengemudi atau mengendarai motor saat sedang marah, gelisah, cemas berlebihan, atau sangat sedih. Sebab, jalan raya memiliki banyak pemicu emosi, sehingga kondisi mental yang tidak stabil dapat membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara berlebihan.