Modus penipuan segitiga masih menjadi salah satu praktik curang yang paling sering ditemui di bursa mobil bekas (mobkas). Modus ini kerap menjebak calon pembeli karena melibatkan lebih dari satu pihak dan dibuat seolah-olah sebagai transaksi normal. Pemilik jasa inspeksi kendaraan PT Inspector Indonesia Expert, Lukman Hakim, mengatakan bahwa penipuan segitiga menjadi modus yang paling sering ia temui di lapangan. Balai lelang mobil AUKSI, tawarkan kemudahan beli mobil bekas dengan cara lelang. “Seperti itu, itu yang pertama dan paling sering kami temui. Saya sebagai pihak jasa inspeksi kendaraan juga sangat sering menemukannya," kata Hakim kepada Kompas.com, akhir pekan lalu. "Bahkan sebelum konsumen melakukan pemesanan ke kami, kami selalu mendampingi dan menyampaikan tips untuk menghindari modus penipuan segitiga,” ujar Hakim. Secara sederhana, modus penipuan segitiga biasanya melibatkan tiga pihak, yakni penjual, pembeli, dan pihak ketiga yang berpura-pura menjadi perantara. Dalam praktiknya, pelaku menciptakan alur transaksi yang tidak transparan sehingga uang atau kendaraan bisa berpindah tangan tanpa sepengetahuan salah satu pihak. Pasar mobil bekas diklaim lesu pada 2025 Selain modus penipuan segitiga, transaksi jual beli mobil bekas juga kerap diwarnai modus penipuan lain yang tak kalah merugikan, yakni modus lelang. Hakim mengatakan bahwa kedua modus tersebut masih marak terjadi di lapangan. Meski cara-caranya tergolong klasik, namun hingga kini masih banyak memakan korban. “Jadi, ada dua modus penipuan yang sampai sekarang masih tergolong klasik, tetapi justru semakin berkeliaran. Pertama adalah modus penipuan segitiga, dan yang kedua adalah modus penipuan lelang,” katanya. Mobil bekas di Bathara Motor Solo Hakim menjelaskan, modus penipuan lelang umumnya muncul melalui akun-akun media sosial yang mengatasnamakan lelang mobil dengan harga sangat menarik Akun-akun tersebut terlihat meyakinkan karena aktif berinteraksi dengan warganet dan menampilkan konten seolah resmi. “Jadi, modus lelang ini jumlahnya benar-benar sangat banyak, dan akun-akun penipuan lelang juga marak ditemukan,” ujar Hakim. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang