Managing Director PT Motul Indonesia Energy (MIE), Welmart Purba. Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran di berbagai sektor industri, termasuk pelumas otomotif. Dampaknya memang belum terasa secara instan, tetapi pelaku usaha sudah mulai menghitung potensi tekanan biaya dalam beberapa minggu ke depan. Managing Director PT Motul Indonesia Energy (MIE), Welmart Purba, mengungkapkan bahwa industri pelumas sangat bergantung pada rantai pasok global. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor paling terasa dalam situasi seperti sekarang. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA “Kalau kita bicara Indonesia, dampak perang ini lebih ke stabilitas mata uang. Rupiah kita sudah mendekati Rp16 ribu per dolar AS, dan itu pasti berpengaruh,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Selasa 3 Maret 2026..Ia menjelaskan bahwa meskipun ada produksi lokal, bahan baku utama seperti base oil dan aditif tetap berasal dari impor. Artinya, ketika nilai tukar melemah atau harga minyak mentah naik, biaya produksi otomatis terdorong naik.“Produksi lokal pun raw material-nya tetap impor. Base oil impor, additive impor, jadi tekanan itu pasti ada,” katanya.Selain kurs, lonjakan harga minyak dunia yang sudah menyentuh 100 dolar AS per barel juga menjadi perhatian. Kenaikan ini berpotensi memicu efek domino pada biaya logistik dan distribusi.Menurut Welmart, dampak konflik biasanya tidak langsung terlihat dalam hitungan hari. Namun ia memperkirakan dalam waktu satu bulan, efeknya akan mulai terasa nyata di industri.“Mungkin tidak kelihatan satu atau dua minggu, tapi biasanya empat minggu ke depan baru terasa dampaknya secara riil,” tuturnya.Gangguan rantai pasok juga menjadi risiko lain yang diwaspadai. Banyak suplai bahan baku industri otomotif Indonesia masih bergantung pada negara-negara Asia seperti Vietnam, Thailand, dan China.“Kalau supply chain terganggu dan rute logistik makin jauh, otomatis cost bisa naik 5 sampai 30 persen,” kata dia.Meski begitu, kondisi stok saat ini masih relatif aman. Pelaku industri rata-rata memiliki cadangan inventori untuk beberapa bulan ke depan sebagai langkah antisipasi awal. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA “Standar inventory ka i tiga bulan, ditambah distributor rata-rata dua bulan, jadi total sekitar empat bulan,” ujarnya.Dengan berbagai variabel yang masih bergerak dinamis, industri pelumas kini memilih mencermati situasi sebelum mengambil keputusan strategis.