Ilustrasi mengemudi mobil Banyak pengemudi menganggap cara paling efektif menghemat bahan bakar adalah dengan mengemudi pelan. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mobil yang melaju terlalu lambat justru bisa mengganggu arus lalu lintas dan belum tentu menghasilkan konsumsi BBM yang lebih efisien. Kunci utama berkendara hemat sebenarnya bukan soal kecepatan rendah, melainkan bagaimana pengemudi mengatur akselerasi, pengereman, dan putaran mesin selama perjalanan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Di kawasan perkotaan yang identik dengan kemacetan dan kondisi stop-and-go, gaya mengemudi memiliki pengaruh besar terhadap konsumsi bahan bakar. Selisih pemakaian BBM antara pengemudi yang agresif dan yang mengemudi dengan teknik efisien bahkan bisa mencapai puluhan persen.Dikutip VIVA Otomotif dari Toyota, Senin 8 Juni 2026, salah satu cara yang paling mudah diterapkan adalah menjaga putaran mesin atau RPM tetap berada pada rentang ideal. Untuk mobil bermesin bensin, zona efisiensi umumnya berada di kisaran 1.500 hingga 2.500 rpm.Saat jarum RPM terlalu sering berada di atas 3.000 rpm, mesin membutuhkan suplai bahan bakar lebih banyak untuk menghasilkan tenaga tambahan. Akibatnya, konsumsi BBM meningkat meski kendaraan tidak selalu melaju lebih cepat.Selain itu, pengemudi disarankan menghindari kebiasaan menginjak pedal gas secara mendadak. Ketika pedal gas ditekan terlalu dalam, sistem elektronik kendaraan akan mengirimkan lebih banyak bahan bakar ke ruang bakar agar mobil dapat berakselerasi lebih cepat.Sebaliknya, akselerasi yang dilakukan secara bertahap membuat proses pembakaran lebih efisien. Mobil memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mencapai kecepatan tertentu, tetapi konsumsi bahan bakarnya lebih hemat.Teknik lain yang sering digunakan pengemudi berpengalaman adalah membaca kondisi lalu lintas lebih jauh ke depan. Fokus tidak hanya pada kendaraan tepat di depan, tetapi juga dua atau tiga kendaraan di depannya.Misalnya saat melihat lampu lalu lintas berubah merah dari kejauhan, pengemudi bisa mulai melepas pedal gas lebih awal. Mobil akan melambat secara alami tanpa perlu melakukan pengereman mendadak.Cara ini membantu mengurangi frekuensi berhenti total yang menjadi salah satu penyebab utama pemborosan bahan bakar di jalan perkotaan.Menjaga kecepatan tetap stabil juga menjadi faktor penting. Mobil yang terus-menerus mengalami siklus akselerasi dan deselerasi membutuhkan energi lebih besar dibanding kendaraan yang melaju dengan ritme konstan.Karena itu, kebiasaan berpindah jalur secara berlebihan saat macet belum tentu membuat perjalanan lebih cepat. Justru pengemudi biasanya harus lebih sering menginjak gas dan rem, yang berdampak pada meningkatnya konsumsi BBM.Faktor lain yang kerap diabaikan adalah beban kendaraan. Barang-barang yang tidak diperlukan sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk di bagasi. Semakin berat kendaraan, semakin besar tenaga yang dibutuhkan mesin untuk bergerak. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Penggunaan pendingin udara atau AC juga perlu diperhatikan. AC memang membantu kenyamanan berkendara, tetapi kompresornya mengambil tenaga dari mesin. Mengatur suhu pada tingkat yang wajar dan tidak selalu menggunakan kecepatan kipas maksimum dapat membantu menjaga efisiensi bahan bakar.Selain itu, mematikan mesin saat kendaraan berhenti dalam waktu cukup lama juga bisa menjadi solusi. Mesin yang tetap menyala saat mobil diam tetap mengonsumsi bahan bakar meski kendaraan tidak bergerak.