Mobil BMW bekas masih menjadi incaran banyak konsumen berkat kenyamanan, performa, dan citra premiumnya. Namun, bagi calon pembeli, tidak hanya kondisi kendaraan yang perlu diperhatikan, melainkan juga asal perakitan mobil tersebut. Sejumlah model BMW yang dipasarkan di Indonesia diketahui ada yang didatangkan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) dari luar negeri, sementara sebagian lainnya sudah dirakit secara lokal (completely knocked down/CKD). Menurut bengkel spesialis BMW, perbedaan asal produksi tersebut dapat berpengaruh terhadap kualitas kendaraan. Perbedaan Kualitas Asep Kurnia, pemilik bengkel spesialis BMW Esa Motor di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, mengatakan, BMW yang sudah dirakit secara lokal dengan yang diproduksi di luar negeri memiliki perbedaan kualitas. Mobil New BMW Seri 7 terlihat saat diluncurkan di Jakarta, Kamis (10/10/2019). BMW Seri 7 terbaru juga sudah dirakit lokal di pabrik BMW Production Network 2, Gaya Motor, Sunter, Jakarta. Mobil hadir dengan dua pilihan yakni The New BMW 740Li Opulence dan The New BMW 730Li M Sport. "Dari sisi endurance, dari sisi mesin, dari sisi body parts, itu ada perbedaan antara mobil yang dirakit di sini dengan yang didatangkan dari luar negeri, itu ada perbedaan jauh," ujar Asep, kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut Asep, pengalamannya menangani berbagai model BMW menunjukkan bahwa unit yang didatangkan dari luar negeri cenderung memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan versi rakitan lokal. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penilaian tersebut merupakan kecenderungan yang ditemuinya di lapangan, bukan berlaku mutlak untuk semua model. Ia bahkan menyarankan calon pembeli BMW bekas untuk mempertimbangkan unit generasi awal yang masih berstatus impor. Pekerja menyelesaikan perakitan mobil All-new BMW X3 di pabrik BMW Production Network 2, PT Gaya Motor, Jakarta Utara, Rabu (18/7/2018). The All-new BMW X3 xDrive20i rakitan dalam negeri ditawarkan dengan harga Rp 1,009,000,000,- off-the-road. "Kalau mau beli BMW, saya sarankan beli tipe yang pertama-pertama. Contoh, yang F10, F10 yang pertama di Indonesia kan buatan Thailand. Itu biasanya lebih tahan daripada yang sudah dirakit di sini," kata Asep. Perawatan Tetap Jadi Penentu Meski menyebut ada perbedaan kualitas antara unit impor dan rakitan lokal, Asep mengingatkan bahwa faktor perawatan tetap menjadi penentu utama kondisi kendaraan, terutama untuk mobil bekas yang sudah berusia lebih dari 10 tahun. Riwayat servis berkala, penggunaan suku cadang yang sesuai spesifikasi, serta cara pemilik sebelumnya merawat kendaraan akan sangat memengaruhi performa dan keawetan mobil. Karena itu, calon pembeli disarankan tidak hanya melihat asal produksi, tetapi juga melakukan inspeksi menyeluruh sebelum memutuskan membeli. "Tapi, tidak seluruhnya seperti itu, hanya cenderung seperti itu, kembali lagi ke perawatannya bagaimana," ujarnya.