Mencari SUV BMW bekas membutuhkan pertimbangan yang matang, terutama terkait pilihan generasi dan jenis mesin. Selain memperhatikan kondisi kendaraan serta riwayat servis, calon pembeli juga perlu memahami karakter masing-masing model agar biaya kepemilikannya tetap terkendali. Bagi yang mengincar SUV BMW bekas, pilihan mesin diesel justru dinilai lebih menarik dibandingkan versi bensin. Selain dikenal lebih hemat bahan bakar, mesin diesel BMW juga disebut memiliki perawatan yang relatif sederhana. Asep Kurnia, pemilik bengkel spesialis BMW Esa Motor, di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, mengatakan, cari SUV BMW bekas, lebih baik langsung ke F25. Misalkan, mau pakai X1, F15 atau F25 bisa. BMW X3 Diesel tahun 2015 Prioritaskan Generasi F dan Mesin Diesel Menurut Asep, generasi F menjadi pilihan yang lebih ideal bagi konsumen yang ingin menggunakan SUV BMW bekas sebagai kendaraan harian. Selain usianya yang lebih muda, ketersediaan suku cadang dan penanganannya juga lebih mudah dibandingkan model yang lebih tua. "Saya sarankan cuma satu, pakai diesel. Diesel BMW itu termasuk oke. Maksudnya, perawatannya juga enggak terlalu rumit," ujar Asep, kepada Kompas.com, belum lama ini. Rekomendasi tersebut tidak hanya berlaku untuk lini SUV. Asep mengatakan, sedan BMW dengan mesin diesel juga layak dipertimbangkan karena menawarkan karakter yang serupa, baik dari sisi efisiensi maupun biaya perawatan. BMW X3 engine swap pakai mesin Isuzu Panther "Kalau mau cari (SUV BMW bekas), cari diesel aja. Jadi, misalkan F30 kalau dapat diesel, lebih baik diesel. Begitu pula dengan F10," kata Asep. Lebih Irit dan Perawatan Tidak Rumit Asep menjelaskan, salah satu keunggulan utama mesin diesel BMW adalah konsumsi bahan bakarnya yang lebih hemat dibandingkan versi bensin. Selain itu, performa yang dihasilkan juga tetap kompetitif sehingga tidak ada perbedaan tenaga yang terlalu signifikan. Menurut Asep, mesin diesel konsumsinya lebih irit. Kemudian, perawatannya juga enggak terlalu rumit, dari sisi tenaga juga enggak jauh beda dengan versi bensinnya. Keunggulan lain yang menjadi pertimbangan adalah kualitas bahan bakar diesel di Indonesia. Menurut Asep, risiko mendapatkan bahan bakar dengan kualitas yang meragukan dinilai lebih kecil dibandingkan bensin. "Kalau soal bahan bakar, kualitas bahan bakar diesel di kita (Indonesia), saya lebih percaya lebih bagus daripada bensin," ujar Asep. Asep juga menilai, bahan bakar diesel memiliki risiko yang lebih kecil terhadap praktik pengoplosan sehingga memberikan rasa aman bagi pemilik kendaraan. "Kayak kejadian kemarin ada dioplos, Pertalite rentan. Kalau di solar, enggak akan bisa, artinya kemungkinannya kecil. Makanya, kenapa rentang harganya kan tinggi. Saya sebenarnya lebih suka orang pakai diesel. Polusinya juga enggak terlalu tinggi," kata Asep.