Mengincar mobil bekas asal Eropa tidak melulu harus berujung pada pilihan Mercedes-Benz atau BMW. Bagi sebagian penghobi, merek lain seperti Audi atau Volvo justru menawarkan daya tarik tersendiri, terutama dari segi eksklusivitas dan kenyamanan yang sering kali dinilai lebih unggul. Bahkan, ada anggapan di kalangan pengguna bahwa sekali seseorang merasakan kenyamanan mobil Eropa, mereka akan enggan untuk kembali mengendarai mobil Jepang. Namun, mengapa populasi Audi dan Volvo bekas di pasar "motuba" (mobil tua bangka) tidak sepopuler duo raksasa Jerman, BMW dan Mercy? Bengkel mobil Eropa New Benefit Auto Service di Bogor Effry, dari bengkel spesialis mobil Eropa New Benefit Auto Service di Bogor, menjelaskan bahwa kenyamanan berkendara yang ditawarkan Audi maupun Volvo memang sangat berkualitas. Sektor sasis, kesenyapan, hingga kekedapan kabinnya tidak perlu diragukan. Hanya saja, tantangan terbesar dari memelihara kedua merek ini ada pada aspek keberlanjutan perawatannya. "Kalau secara ngerjainnya (teknis perbaikan) sebenarnya sama saja. Tapi biasanya onderdilnya lebih mahal dikit, lebih tinggi dikit," ujar Effry kepada Kompas.com, belum lama ini. Mobil Citroen C1 yang dimiliki Alanah Thompson French, membuatnya ditolak kerja di Inggris pada Desember 2025 karena kendaraannya berusia lebih dari 10 tahun. Selain faktor harga suku cadang yang cenderung lebih menguras kantong, masalah populasi kendaraan di jalan raya juga sangat berpengaruh. Karena populasi Audi dan Volvo tidak sebanyak Mercedes-Benz atau BMW, ekosistem suku cadang pendukungnya pun tidak semasif kedua merek tersebut. Hal ini berdampak langsung pada tingkat kesulitan berburu komponen pengganti, terutama jika pemilik ingin menyiasati biaya dengan mencari komponen copotan atau part bekas. "Spare partnya yang lumayan mahal, lagipula kan mobil jarang, jadi copotannya juga agak susah," kata Effry. Kesulitan ini akan semakin meningkat jika jenis mobil Eropa yang dipilih memiliki populasi yang sangat langka di Indonesia. Effry mencontohkan pengalamannya pada merek asal Prancis, Citroen. Jika mobil tersebut mengalami kerusakan berat dan membutuhkan komponen khusus, proses indennya bisa memakan waktu yang sangat lama. "Sekalinya beli, nyari ini enggak ada. Ada juga nyarinya di sana, di Prancis. Waktunya bisa sebulan dua bulan. Terus harganya juga kan pasti tinggi," kata Effry. Oleh karena itu, bagi pemula yang baru ingin terjun ke dunia mobil Eropa tua, BMW dan Mercedes-Benz tetap menjadi rekomendasi utama karena kemudahan akses suku cadang dan banyaknya pilihan bengkel. Sementara untuk Audi atau Volvo, mobil ini lebih cocok bagi lini penghobi yang sudah siap secara mental, waktu, dan anggaran yang lebih dalam untuk urusan berburu spare part. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang